MEDAN, Index Sumut – IHSG ditutup melemah setelah sempat menguat di level 6.973 pada sesi perdagangan pertama. IHSG terkoreksi 0.12% di level 6.926,78 pada penutupan, Jumat (13/10).

Analis Pasar Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin menyebutkan, kinerja IHSG terpukul oleh memburuknya sejumlah bursa di Asia. Selain data inflasi AS yang lebih tinggi dari ekspektsi sebelumnya, inflasi China secara tahunan (YoY) lebih rendah dari ekspektasi sebelumnya. Dimana rilis data inflasi China secara tahunan sebesar 0% pada bulan September, lebih rendah dibandingkan dengan ekspektasi sebesar 0.2%.

“Kalau data inflasi AS yang naik justru memunculkan ketakutan akan kenaikan suku bunga acuan kedepan. Dan memberikan gambaran bahwa kondisi ekonomi dibayangi perlambatan atau bahkan kemungkinan resesi. Maka melemahnya data inflasi China justru menunjukan bahwa aktifitas ekonomi China tengah mengalami perlambatan,” ujar Gunawan.

Dia menyebutkan, tidak hanya inflasi China yang menjadi tolak ukurnya. Kinerja ekspor – impor China juga masih terkoreksi.

“Jadi situasi ekonomi di AS dan China secara keseluruhan memberikan gambaran yang jelas bagaimana potensi memburuknya kinerja ekonomi global di masa yang akan datang. Dan hal tersebut tentunya akan berdampak buruk bagi kinerja pasar saham,” katanya.

Selain IHSG yang terkoreksi pada perdagangan hari ini, mata uang rupiah sebelum menjelang penutupan perdagangan juga sempat terkoreksi di atas 15.700 per US Dolar.

“Namun pelemahan rupiah terus melambat hingga menjelang sesi penutupan perdagangan. Rupiah bahkan mampu menguat tipis di level 15.680 per US Dolar pada sesi perdagangan sore akhir pekan,” jelas Gunawan.

Menurutnya, kinerja mata uang rupiah yang menguat juga terdorong oleh penurunan imbal hasil US Treasury, yang turut dibarengi dengan penurunan USD Index. Namun, yang perlu diwaspadai selanjutnya adalah harga minyak mentah yang mengalami kenaikan pada perdagangan hari ini.

“Harga minyak berbalik naik ke evel $85 per barel, setelah sempat berada di kisaran harga $82 per barel,” sebutnya.

Harga minyak yang naik perlu diwaspadai mengingat tensi konflik di Timur Tengah sedang berlangsung saat ini. Kenaikan harga minyak mentah memicu kekhawatiran akan meningkatnya kebutuhan US Dolar dan berpeluang memicu kenaikan inflasi maupun pelemahan rupiah.

Di sisi lain, harga emas di akhir pekan masih mampu menguat di kisaran level $1.882 per ons troy, atau sekitar 951 ribu per gramnya. (R)

Share: