Index Sumut – Imbal hasil US Treasury mengalami kenaikan yang cukup signifikan pada sesi perdagangan di Asia.
Yield US Treasury untuk yang sempat berada di level 4.4550% di sesi perdagangan pagi, mengalami lonjakan menjadi 4.482% di perdagangan sore.
Sementara itu mata uang rupiah juga bergerak dalam tekanan, dimana Rupiah sempat melemah hingga ke level 15,604, namun diperdagangan sore mampu mengurangi tekanannya.
Meski demikian mata uang rupiah tetap ditutup melemah di level 15.560 per US Dolarnya.
Pengamat Pasar Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin menyebutkan, ekspektasi dimana The Fed tidak akan lagi menaikkan bunga acuan sepertinya sudah membuat imbal hasil obligasi AS berada di titik keseimbangan baru. Namun belum bisa dipastikan apakah imbal hasil akan menyentuh level yang lebih rendah dalam jangka pendek.
“Akan tetapi jika merunut pada kebijakan pengetatan moneter yang dilakukan oleh Bank Sentral AS memungkinkan imbal hasil US Treasury 10 Tahun akan menyentuh level 4% dalam waktu dekat. Dan bisa berlanjut pada penurunan yang lebih dalam, jika seandainya The FED justru mengambil langkah untuk memotong besaran bunga acuannya,” sebut Gunawan.
Di sisi lain, rupiah yang mengalami tekanan juga tidak sendirian. Kinerja harga emas pada perdagangan hari ini juga terpantau melemah tipis di level $1.993 per ons troy.
“Harga emas juga tertekan dengan kinerja mata uang US Dolar yang sedikit mengalami penguatan pada perdagangan hari ini. Jika dirupiahkan, harga emas di akhir pekan ini berada di kisaran Rp1 juta per gramnya,” sebutnya.
Sementara itu, kinerja indeks bursa saham di Asia banyak yang ditutup di zona merah, bahkan dengan penurunan mendekati 2%. Namun IHSG justru masih mampu ditutup menguat pada perdagangan hari ini di level 7.009,63 atau naik 0.08%.
“IHSG yang pada sesi perdagangan pagi mampu ditransaksikan di atas 7.030, berbalik arah seiring dengan memburuknya kinerja sejumah bursa di Asia,” pungkasnya. (R)





