Index Sumut – Indeks-indeks Wall Street melorot pada Rabu (6/12/2023), di tengah investor menimbang data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan penurunan inflasi dan laporan pekerjaan yang semakin dekat.
Dikutip dari CNBC internasional, Dow Jones Industrial Average terpangkas 70,13 poin (0,19%) menjadi ditutup 36.054,43. Sedangkan S&P 500 merosot 0,39% menjadi 4.549,34. Sementara itu, Nasdaq Composite turun 0,58% menjadi 14.146,71. Ini adalah hari ketiga penurunan bagi Dow Jones dan S&P 500, pertama kalinya sejak Oktober untuk kedua indeks tersebut.
Saham-saham melepaskan kenaikan sebelumnya, sebab Dow Jones sempat naik hampir 170 poin pada sesi tertingginya. Ketiga indeks diperdagangkan di atas dan di bawah garis datar masing-masing pada sesi yang berombak.
Pasar awalnya mendapat dorongan pada sesi pagi, setelah data ekonomi. Penurunan biaya tenaga kerja merupakan pertanda positif terhadap jalur inflasi, sementara lonjakan produktivitas menandakan potensi perekonomian untuk menghindari resesi.
Data penggajian swasta bulan November dari ADP memberikan indikasi terbaru bahwa pasar kerja, yang telah lama dianggap sebagai titik lemah bagi Federal Reserve, sedang mengalami pelonggaran.
“Data penggajian ADP menunjukkan kebijakan anti-inflasi The Fed kini benar-benar mulai berdampak. Angka-angka tersebut menunjukkan soft landing, namun investor mungkin mulai khawatir terhadap resesi jika kebijakan tetap terlalu hawkish. Saat ini adalah pertarungan The Fed untuk mundur,” kata David Russell, kepala strategi pasar global di platform investasi online TradeStation.
Namun laporan ADP pada hari Rabu hanyalah salah satu dari serangkaian rilis data yang berfokus pada tenaga kerja yang dipertimbangkan oleh para pedagang selama seminggu ini. Pada Selasa (5/12/2023), Departemen Tenaga Kerja menunjukkan lowongan pekerjaan di bulan Oktober turun ke level terendah sejak Maret 2021.
Investor akan memantau angka klaim pengangguran pada Kamis (7/12/2023), sebelum mengalihkan perhatian ke data nonfarm payrolls November, upah dan tingkat pengangguran yang akan dirilis pada hari Jumat (8/12/2023).
“Tidak dapat disangkal bahwa data pada akhir minggu adalah data yang ditunggu-tunggu oleh semua orang,” kata Craig Erlam, analis pasar senior di Oanda.
Biaya tenaga kerja juga turun lebih besar dari perkiraan para ekonom, sementara produktivitas meningkat pada tingkat yang lebih tinggi dari yang diperkirakan, data terbaru pemerintah menunjukkan.
Pelemahan yang terjadi pada Rabu menandai penurunan tiga hari berturut-turut untuk Dow dan S&P 500. Penurunan tersebut menimbulkan pertanyaan seputar apakah reli di akhir tahun 2023 terhenti atau apakah pasar telah naik terlalu jauh ataukah terlalu cepat. Namun, tiga indeks utama tetap siap untuk mengakhiri kuartal keempat dan tahun kalender dengan lebih tinggi. (*)
* dilansir dari investor.id





