Medan, Index Sumut — Pasar keuangan global kembali bergolak setelah rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) menunjukkan kekuatan ekonomi yang solid. Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal kedua 2025 tumbuh 3%, melampaui ekspektasi pasar sebesar 2,5%.
Namun di balik data positif ini, pelaku pasar justru mulai meragukan kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Bank Sentral AS (The Fed) dalam waktu dekat.
Menurut Pengamat Pasar Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, pertumbuhan ekonomi yang solid ditambah dengan inflasi inti AS yang naik menjadi 2,5% telah memupuskan harapan pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter The Fed tahun ini.
“The Fed saat ini lebih menunjukkan sikap hawkish karena masih melihat adanya tekanan inflasi, termasuk dari dampak kenaikan tarif impor. Ini membuat pasar bereaksi dengan menguatnya Dolar AS secara global,” ujar Gunawan di Medan, Kamis (31/7).
Dampak dari penguatan Dolar AS langsung terasa di pasar domestik. Nilai tukar Rupiah pada perdagangan pagi ini terpantau melemah ke level Rp16.430 per dolar AS, dan diperkirakan masih akan bergerak dalam zona merah sepanjang hari.
Gunawan menambahkan, spekulasi penundaan pemangkasan suku bunga The Fed juga mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS (US Treasury) tenor 10 tahun yang kini berada di kisaran 3,6%. Hal ini semakin memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di sisi lain, pasar saham Indonesia terpantau bergerak terbatas. IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) dibuka menguat tipis ke level 7.551 dan diproyeksikan bergerak dalam rentang 7.500–7.590 sepanjang sesi perdagangan hari ini.
Sementara itu, harga emas dunia ikut terpukul oleh penguatan Dolar. Logam mulia tersebut turun ke level USD 3.294 per troy ounce, atau setara dengan sekitar Rp1,75 juta per gram di pasar domestik.
“Investor global kini beralih ke instrumen berisiko rendah seperti obligasi AS karena imbal hasilnya meningkat. Ini membuat emas kehilangan daya tariknya sebagai aset lindung nilai,” jelas Gunawan.
Ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif AS juga menjadi perhatian pasar. Dalam perkembangan terbaru, AS telah memberlakukan tarif impor sebesar 25% untuk India dan 15% untuk Korea Selatan. Pasar kini mencemaskan kebijakan serupa terhadap negara-negara yang menjalin kerja sama dagang dengan Rusia.
“Jika konflik tarif terus meluas, volatilitas pasar bisa meningkat dan akan memberikan tekanan tambahan terhadap Rupiah dan harga komoditas,” tutup Gunawan. (R)





