MEDAN, Index Sumut – Pasar keuangan Asia pagi ini bergerak hati-hati menyusul kabar perpanjangan negosiasi tarif antara Amerika Serikat (AS) dan China. Kesepakatan yang kembali ditunda tersebut menjadi sentimen utama perdagangan, di tengah penantian pelaku pasar terhadap rilis data inflasi AS yang akan menjadi penentu arah pasar ke depan.

Pengamat Pasar Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, penundaan kesepakatan dagang untuk sementara waktu membawa efek positif bagi pasar saham domestik.

“IHSG dibuka menguat di level 7.667. Indonesia masih diuntungkan dengan kebijakan tarif 19%, yang relatif lebih rendah dibandingkan tarif yang dibebankan ke negara lain,” ujarnya, Selasa (12/8).

Menurut Gunawan, meski IHSG bergerak di jalur positif, kondisi berbeda terjadi pada pasar valuta asing. Rupiah justru melemah ke level Rp16.290 per dolar AS pada awal perdagangan.

“Kekhawatiran muncul terkait potensi kenaikan inflasi AS. Jika inflasi naik, peluang The Fed untuk menunda pemangkasan suku bunga acuan akan semakin besar, dan itu memberi tekanan pada rupiah,” jelasnya.

Penguatan indeks dolar AS ke level 98,5 turut membebani kinerja mata uang Garuda. Gunawan memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.250–Rp16.330 per dolar AS sepanjang hari ini, sementara IHSG berpotensi diperdagangkan pada rentang 7.600–7.700.

Di sisi lain, harga emas dunia ikut terkoreksi ke level US$3.350 per ons troy atau setara sekitar Rp1,76 juta per gram. Gunawan menilai pelemahan emas dipicu meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko setelah kabar perpanjangan negosiasi dagang AS–China.

“Bagi pelaku pasar, kabar ini ibarat dua sisi mata uang. Saham cenderung diuntungkan, tetapi rupiah rentan tertekan selama ketidakpastian inflasi dan kebijakan suku bunga AS masih tinggi,” pungkasnya. (R)

Share: