MEDAN, Index Sumut – Pasar keuangan tanah air dibuka melemah pada akhir pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi ke level 7.899, sementara mata uang Rupiah melemah di kisaran Rp16.365 per dolar AS.

Pengamat Pasar Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, menjelaskan pelemahan pasar domestik tidak terlepas dari minimnya sentimen positif di Asia serta kondisi geopolitik dalam negeri.

“IHSG maupun Rupiah sebenarnya masih cukup solid di tengah tekanan, tetapi faktor eksternal dan perhatian pasar terhadap aksi demonstrasi di tanah air tetap memengaruhi keputusan investasi,” ujar Benjamin, Jumat (29/8).

Di sisi global, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) pada kuartal II 2025 tercatat naik 3,3%, melampaui ekspektasi 3%. Kinerja ekonomi yang lebih baik dari perkiraan tersebut mendorong bursa saham Wall Street ditutup menguat. Namun di Asia, bursa saham justru bergerak variatif.

Benjamin memproyeksikan IHSG sepanjang perdagangan hari ini akan berada di kisaran 7.850–7.920, sedangkan Rupiah bergerak dalam rentang Rp16.300–Rp16.400 per dolar AS.

“Tekanan pada Rupiah terjadi meski imbal hasil US Treasury 10 tahun turun ke level 4,2% dan indeks dolar AS juga melemah di posisi 98. Artinya, faktor sentimen domestik tetap cukup dominan bagi pasar,” tambahnya.

Sementara itu, harga emas dunia melonjak tajam hingga menembus level US$3.412 per troy ons, atau setara Rp1,8 juta per gram. Benjamin menilai lonjakan harga emas ini juga dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap sikap dovish The Federal Reserve (The Fed) dalam kebijakan suku bunga acuannya.

“Kinerja ekonomi AS yang kuat justru memberi ruang bagi The Fed untuk lebih berhati-hati. Pasar membaca peluang bahwa kebijakan suku bunga bisa lebih longgar, dan hal itu mendorong emas sebagai aset lindung nilai semakin diburu,” jelas Benjamin. (R)

Share: