MEDAN, Index Sumut – Harga emas dunia kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan terbaru dengan menembus level US$5.210 per ons troy, atau setara sekitar Rp2,83 juta per gram. Kenaikan ini terjadi di tengah meredanya kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global, seiring turunnya harga minyak mentah dunia.
Harga minyak mentah saat ini berada di kisaran US$84 per barel, setelah sebelumnya sempat melonjak mendekati US$120 per barel pada awal pekan. Penurunan harga energi tersebut memberikan ruang bagi pasar untuk kembali memburu aset aman seperti emas.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan bahwa pergerakan emas saat ini masih dipengaruhi oleh dinamika inflasi global serta ketidakpastian geopolitik.
“Pasar saat ini menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat yang diperkirakan masih berada di atas target bank sentral. Namun perhatian pelaku pasar juga terbagi karena konflik geopolitik di Timur Tengah yang masih berlanjut,” ujar Gunawan, Rabu (11/3).
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan tercatat menguat ke level 7.484. Penguatan ini sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang juga bergerak di zona hijau pada sesi perdagangan pagi.
Menurut Gunawan, pergerakan IHSG masih sangat dipengaruhi sentimen global, khususnya perkembangan konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
“IHSG berpotensi mengikuti arah bursa Asia. Namun pelaku pasar masih dihantui kekhawatiran munculnya tekanan yang tidak terduga akibat eskalasi konflik yang belum mereda,” jelasnya.
Sementara itu, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS terpantau relatif stabil di kisaran Rp16.855 per dolar AS, meskipun masih menunjukkan kecenderungan melemah di tengah meningkatnya risiko global.
Sebelumnya, pidato Presiden Amerika Serikat sempat memberikan sinyal menenangkan dengan indikasi bahwa konflik dapat segera mereda. Namun pernyataan tersebut dibalas oleh Iran yang menyatakan akan menentukan sendiri kapan konflik tersebut berakhir.
“Pernyataan terbaru dari pihak Amerika Serikat justru kembali bernada agresif. Kondisi ini membuat pasar keuangan global menjadi tidak stabil, sehingga investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan,” tutup Gunawan. (R)





