JAKARTA, Index Sumut – Harga emas dunia kembali menunjukkan penguatan signifikan selama dua hari berturut-turut, seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di kawasan Timur Tengah.
Mengutip Mining.com, Selasa (31/3/2026), harga emas batangan sempat melonjak hingga 1,9% dan diperdagangkan di atas US$ 4.500 per troy ons sebelum akhirnya mengalami sedikit koreksi. Kenaikan ini menunjukkan daya tahan emas sebagai aset safe haven, meskipun harga minyak dunia terus merangkak naik.
Tak hanya emas, harga perak juga ikut menguat dan kembali menyentuh level psikologis US$ 70 per troy ons. Pada perdagangan siang waktu New York, harga emas spot tercatat naik 0,2% menjadi US$ 4.500,94 per troy ons, sementara perak menguat 0,36% ke posisi US$ 70,01 per troy ons.
Kenaikan harga logam mulia ini didorong oleh aksi investor yang mulai kembali masuk memanfaatkan harga yang dianggap masih menarik, di tengah kekhawatiran inflasi global yang terus membayangi pasar.
Selain itu, sentimen positif juga datang dari ekspektasi kebijakan moneter. Pelaku pasar kembali bertaruh bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, yang menyebut ekspektasi inflasi jangka panjang di AS masih relatif terkendali.
Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi, khususnya minyak, akan memaksa bank sentral AS untuk memperketat kebijakan moneternya.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik turut memperkuat daya tarik emas. Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan tekanan terhadap aset energi Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka. Pernyataan ini meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat semakin meluas, terutama setelah penambahan pasukan AS di kawasan tersebut.
Analis menilai, permintaan emas yang tinggi dari bank-bank sentral global juga akan menjadi faktor utama yang menopang reli harga logam mulia ke depan.
Namun demikian, tidak semua pandangan bersifat optimistis. Pedagang dari Heraeus Precious Metals, Marc Loeffert, mengingatkan bahwa tren jangka pendek masih cenderung melemah.
“Meski pergerakan jangka pendek dipengaruhi kebijakan luar negeri AS, harga emas saat ini sedang mengalami konsolidasi setelah reli tajam ke rekor tertinggi pada Januari,” ujarnya.
Dengan kombinasi faktor geopolitik, inflasi, dan arah kebijakan moneter, pergerakan emas dan perak diperkirakan masih akan menjadi sorotan utama pelaku pasar global dalam waktu dekat. (invid)





