JAKARTA, Index Sumut – Memanasnya konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel di kawasan Timur Tengah mulai berdampak luas, termasuk terhadap industri asuransi global dan nasional.

Salah satu titik krusial yang menjadi perhatian adalah Selat Hormuz, jalur vital yang melayani sekitar 20 persen distribusi petroleum dunia. Gangguan di wilayah ini dinilai meningkatkan profil risiko pada aktivitas pelayaran, distribusi energi, hingga asuransi kredit perdagangan.

Laporan IFG Progress dalam Insurance Quarterly Report Kuartal IV-2025 menyebutkan bahwa hambatan di jalur strategis tersebut berdampak langsung terhadap aspek insurability atau kelayakan asuransi. Artinya, risiko meningkat secara nyata, bukan sekadar dipengaruhi sentimen makroekonomi.

“Gangguan pada jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap industri asuransi, terutama melalui keterkaitannya dengan aktivitas pelayaran dan distribusi komoditas global,” tulis IFG Progress dalam laporannya, dikutip Minggu (5/4/2026).

Industri asuransi kini tak lagi sekadar menjadi pelengkap biaya operasional. Perannya telah berkembang menjadi faktor krusial yang menentukan keberlangsungan perdagangan global, khususnya pada sektor energi dan logistik.

Empat Lini Bisnis Terdampak

Laporan tersebut mengidentifikasi sedikitnya empat lini bisnis asuransi yang paling terdampak akibat eskalasi konflik:

1. Asuransi Marine Hull dan Marine Cargo
Risiko perang (war risk) yang meningkat membuat perusahaan asuransi memperketat kebijakan. Dampaknya berupa kenaikan premi, penerapan klausul pengecualian perang, hingga seleksi rute pelayaran yang lebih ketat. Kapal dilindungi melalui asuransi marine hull, sementara muatan dijamin lewat marine cargo.

2. Sektor Energi dan Infrastruktur
Konflik dilaporkan telah memangkas produksi minyak hingga 10 juta barel per hari serta menghentikan lebih dari 3 juta barel kapasitas kilang. Risiko kerugian bagi perusahaan asuransi meningkat, terutama karena banyak aset energi terkonsentrasi di wilayah terdampak konflik.

3. Asuransi Penerbangan (Aviation)
Gangguan operasional penerbangan turut memukul lini bisnis ini. Lonjakan harga bahan bakar, pengalihan rute untuk menghindari zona konflik, serta pembatalan penerbangan meningkatkan risiko kerugian bagi asuransi aviation.

4. Asuransi Kredit Perdagangan
Kenaikan harga minyak dan tekanan inflasi global memperbesar risiko gagal bayar. Bahkan, kenaikan harga minyak sebesar 10 persen diperkirakan dapat menekan pertumbuhan ekonomi global lebih dari 0,1 persen. Kondisi ini mempersempit ruang pembiayaan perdagangan sekaligus meningkatkan ketidakpastian kontrak.

Tekanan Menyebar ke Sektor Keuangan

Dampak konflik tidak hanya dirasakan di sisi operasional, tetapi juga merambat ke dimensi keuangan industri asuransi. Pada asuransi umum, tekanan klaim meningkat akibat inflasi biaya material.

Sementara pada asuransi jiwa, volatilitas pasar saham dan kenaikan imbal hasil obligasi berpotensi mengganggu keseimbangan aset dan liabilitas.

Situasi ini menegaskan bahwa eskalasi geopolitik di Timur Tengah bukan hanya persoalan regional, tetapi telah menjalar menjadi risiko global yang kompleks—mengguncang rantai pasok energi, perdagangan internasional, hingga stabilitas industri keuangan dunia. (inv)

Share: