MEDAN, Index Sumut – Tekanan di pasar keuangan global kembali berdampak ke dalam negeri. Nilai tukar rupiah terpantau menembus level psikologis 17.000 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah hingga diperdagangkan di bawah level 7.000 pada awal sesi perdagangan hari ini, Senin (6/4).
Pada pembukaan perdagangan, IHSG langsung terkoreksi ke level 7.001 dan terus tertekan hingga turun di bawah ambang psikologis tersebut. Secara teknikal, kondisi ini membuka peluang bagi IHSG untuk menguji level support di kisaran 6.930, seiring meningkatnya tekanan dari sentimen eksternal.
Pelemahan IHSG tidak terlepas dari merosotnya nilai tukar rupiah yang pada perdagangan pagi ini menyentuh level 17.005 per dolar AS. Depresiasi rupiah tersebut dinilai menjadi beban tambahan bagi pasar keuangan domestik, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai bahwa tekanan terhadap rupiah dan IHSG saat ini sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, khususnya eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
“Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang semakin meningkat menjadi sentimen utama pasar. Kenaikan harga minyak mentah serta ancaman terhadap jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz membuat pelaku pasar cenderung menghindari risiko,” ujar Gunawan.
Harga minyak mentah jenis WTI yang saat ini berada di kisaran 115 dolar AS per barel semakin memperburuk sentimen pasar. Lonjakan harga energi ini berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global sekaligus membebani negara-negara importir energi seperti Indonesia.
Menurut Gunawan, kondisi ini membuat pelaku pasar lebih fokus pada perkembangan geopolitik dibandingkan agenda ekonomi lainnya.
“Selama konflik belum mereda, volatilitas pasar akan tetap tinggi. Bahkan, potensi tekanan lanjutan masih sangat terbuka dalam jangka pendek,” tambahnya.
Di tengah tekanan tersebut, harga emas dunia justru menunjukkan ketahanan. Saat ini, emas diperdagangkan di kisaran 4.638 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,54 juta per gram. Pergerakan emas cenderung stabil dan masih bertahan di zona hijau dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Gunawan menjelaskan bahwa emas masih menjadi aset lindung nilai (safe haven) yang diminati di tengah ketidakpastian global. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tekanan terhadap emas tetap ada, terutama jika terjadi perubahan sentimen pasar secara tiba-tiba.
“Emas masih punya peluang bertahan atau bahkan menguat, tetapi tetap tidak lepas dari tekanan. Jadi pergerakannya akan sangat dinamis mengikuti perkembangan global,” tutupnya.
Dengan kondisi saat ini, pelaku pasar diharapkan lebih berhati-hati dan mencermati perkembangan geopolitik yang menjadi faktor utama penggerak pasar dalam beberapa waktu ke depan. (R)





