MEDAN, Index Sumut – Menjelang berakhirnya tenggat waktu yang diberikan Amerika Serikat (AS) terkait ketegangan di Timur Tengah, pergerakan pasar keuangan global hingga harga emas terpantau masih relatif stabil, meskipun dibayangi potensi volatilitas tinggi.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menyebutkan mayoritas bursa saham Asia pada perdagangan pagi ini, Selasa (7/4), dibuka menguat di zona hijau. Sentimen positif tersebut turut mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dibuka naik terbatas ke level 7.001.
“Penguatan ini memang menjadi sinyal positif awal, namun belum cukup kuat untuk memastikan pasar akan membentuk tren kenaikan dalam jangka pendek,” ujar Gunawan.
Ia menjelaskan, pasar saat ini masih bergerak fluktuatif seiring mendekatnya batas waktu yang diberikan AS kepada Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Pelaku pasar, kata dia, cenderung bersikap wait and see terhadap perkembangan geopolitik di kawasan tersebut.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia masih bertahan tinggi, masing-masing di kisaran US$110 per barel untuk Brent dan US$114 per barel untuk WTI. Kondisi ini dinilai berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.
“Ketegangan geopolitik menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar, termasuk nilai tukar rupiah yang saat ini masih berada di atas level Rp17.000 per dolar AS, tepatnya di kisaran Rp17.040,” jelasnya.
Menurut Gunawan, penguatan dolar AS yang tercermin dari indeks dolar yang berada di level 100,06 turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ia menambahkan, kenaikan harga energi seperti minyak mentah berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi, sehingga bank sentral di berbagai negara kemungkinan akan mempertahankan kebijakan moneter yang cenderung ketat (hawkish).
Sementara itu, harga emas dunia sebagai aset safe haven masih menunjukkan stabilitas di tengah ketidakpastian global. Saat ini, emas diperdagangkan di kisaran US$4.644 per ons troy atau sekitar Rp2,55 juta per gram.
“Emas masih mampu bertahan karena meningkatnya permintaan lindung nilai di tengah risiko geopolitik dan potensi lonjakan harga energi,” katanya.
Gunawan juga mengingatkan, apabila AS benar-benar merealisasikan ancamannya terhadap Iran, khususnya dengan menyerang infrastruktur energi, maka harga minyak mentah berpotensi kembali melonjak.
“Jika itu terjadi, tekanan terhadap pasar keuangan global akan semakin besar. IHSG dan rupiah masih berisiko mengalami tekanan lanjutan,” pungkasnya. (R)





