MEDAN, Index Sumut – Penyakit Parkinson menjadi salah satu tantangan kesehatan serius yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya. Gangguan utama yang muncul meliputi tremor, kekakuan otot, hingga kesulitan koordinasi dan keseimbangan, yang kerap membuat aktivitas sederhana terasa berat.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental. Banyak penderita Parkinson yang merasa enggan atau malu untuk berinteraksi sosial, sehingga berisiko mengalami isolasi yang dapat memperburuk kondisi emosional maupun fisik.
Namun demikian, para ahli menegaskan bahwa kondisi ini masih dapat dikelola melalui kombinasi aktivitas fisik dan pola hidup sehat. Latihan fisik diketahui tidak hanya membantu mengurangi gejala motorik, tetapi juga meningkatkan kesehatan mental dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Beberapa jenis olahraga seperti yoga, tai chi, peregangan, serta latihan keseimbangan dinilai efektif dalam meningkatkan fleksibilitas, memperkuat otot, dan menumbuhkan rasa percaya diri pada penderita. Selain itu, aktivitas aerobik ringan seperti berjalan kaki atau bersepeda juga bermanfaat untuk menjaga kesehatan jantung sekaligus membuka peluang interaksi sosial.
“Olahraga kelompok atau kelas khusus penderita Parkinson dapat menjadi ruang aman untuk berlatih sekaligus berinteraksi dengan sesama pasien,” ujar dr. Tommy Rizky Hutagalung, M.Ked (NeuSurg), Sp.BS., FINPS, FMD.
Selain aktivitas fisik, penerapan pola hidup sehat juga menjadi faktor penting dalam pengelolaan penyakit ini. Konsumsi makanan bergizi seimbang, kaya serat, serta istirahat yang cukup dapat membantu menjaga kondisi fisik dan mental tetap stabil.
Tak hanya itu, manajemen stres melalui teknik relaksasi seperti meditasi juga dianjurkan untuk membantu meningkatkan suasana hati dan mengurangi tekanan psikologis.
Dr. Tommy menekankan pentingnya dukungan sosial bagi penderita Parkinson. Menurutnya, keterlibatan dalam komunitas atau kelompok pendukung dapat memberikan dorongan emosional serta membantu pasien merasa tidak sendirian dalam menghadapi penyakit tersebut.
“Dukungan dari lingkungan sekitar sangat penting agar penderita tetap termotivasi menjalani terapi dan menjaga kualitas hidupnya,” pungkasnya. (R)





