JAKARTA, Index Sumut – Kekhawatiran terhadap potensi kelangkaan chip memori global mendorong lonjakan pembelian komputer sepanjang 2025. Pasar bersiap menghadapi risiko kenaikan harga perangkat elektronik konsumen pada 2026, mulai dari komputer, ponsel, hingga peralatan rumah tangga.
Lonjakan permintaan chip memori dipicu pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Berbeda dengan chip konvensional, teknologi AI membutuhkan chip memori berkapasitas tinggi dengan spesifikasi khusus, sehingga menyedot pasokan global.
Mengutip CNBC Indonesia, Jumat (16/1/2026), para produsen chip kini lebih memprioritaskan produksi High Bandwidth Memory (HBM) untuk kebutuhan AI. Akibatnya, produksi chip konvensional untuk perangkat elektronik konsumen terpinggirkan.
Kondisi tersebut membuat harga chip memori melonjak dan menempatkan produsen perangkat elektronik pada posisi dilematis: menaikkan harga jual kepada konsumen atau mempertahankan harga dengan risiko minim peningkatan spesifikasi perangkat.
Selain isu chip, kekhawatiran kebijakan tarif dari pemerintahan Donald Trump, serta berakhirnya dukungan Windows 10, turut menjadi katalis peningkatan penjualan komputer sepanjang 2025.
Pengapalan PC Naik Signifikan
Firma riset IDC melaporkan pengapalan PC global pada kuartal IV 2025 melonjak 9,6% secara tahunan (YoY) menjadi 76,4 juta unit, dikutip dari FoneArena, Rabu (14/1/2026).
Secara keseluruhan, total pengapalan PC sepanjang 2025 meningkat 8,1% dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 284,7 juta unit.
Lenovo masih mempertahankan posisi puncak pasar global dengan pertumbuhan 14,5% YoY dan pangsa pasar 24,9%, setara dengan 70,8 juta unit PC yang dikapalkan.
Di posisi kedua, HP mencatat pertumbuhan 8,4% YoY dengan pangsa pasar 20,2%, atau sekitar 57,5 juta unit PC sepanjang 2025.
Dell Technologies menempati peringkat ketiga dengan pertumbuhan 5,2% YoY, pangsa pasar 14,4%, dan total pengapalan 41,1 juta unit.
Sementara itu, Apple dan Asus berada di posisi keempat dan kelima. Keduanya mencatat pertumbuhan dua digit, masing-masing 11,1% YoY untuk Apple dan 13,4% YoY untuk Asus. Apple menguasai 9% pangsa pasar global dengan pengapalan 25,6 juta unit, sedangkan Asus meraih 7,2% dengan 20,5 juta unit PC.
Krisis Mengintai di 2026
Meski menikmati pertumbuhan signifikan sepanjang 2025, industri PC diprediksi menghadapi tantangan berat pada 2026 akibat krisis chip memori.
Menurut FoneArena, rata-rata PC yang dirilis tahun 2026 berpotensi hadir dengan spesifikasi lebih rendah karena keterbatasan pasokan chip. Di sisi lain, produsen juga diperkirakan akan menaikkan average selling price (ASP) sembari memanfaatkan stok komponen yang masih tersedia.
Merek-merek besar seperti Lenovo, Apple, dan HP dinilai memiliki posisi lebih kuat untuk melewati krisis berkat skala bisnis dan akses alokasi memori yang lebih baik. Sebaliknya, vendor kecil dan regional berisiko tergerus dari pasar.
“IDC memperkirakan pasar PC akan sangat berbeda dalam 12 bulan ke depan mengingat cepatnya perkembangan situasi memori. Selain tekanan harga sistem, kita juga mungkin melihat spesifikasi memori PC diturunkan secara rata-rata untuk menjaga pasokan. Tahun depan akan sangat fluktuatif,” ujar VP Riset IDC Worldwide Mobile Device Trackers, Jean Philippe Bouchard.
Senada, Manajer Riset IDC Worldwide Mobile Device Trackers, Jitesh Ubrani, menyebut kelangkaan memori akan membentuk ulang dinamika industri dalam dua tahun mendatang.
“Merek elektronik konsumen besar berada dalam posisi kuat untuk merebut pangsa pasar dari vendor yang lebih kecil. Namun, parahnya kelangkaan ini meningkatkan risiko bahwa merek kecil mungkin tidak bertahan, dan konsumen—terutama penggemar DIY—bisa menunda pembelian atau mengalihkan pengeluaran mereka,” katanya. (cnbci)





