Index Sumut – Harga cabai merah pada periode bulan Oktober di Kota Medan berada dalam rentang Rp28 hingga Rp40 ribu per Kg. Atau di kisaran rata-rata Rp33 ribu per Kg. Sementara harga cabai rawit ditransaksikan di kisaran Rp42 ribu per Kg.
“Harga cabai rata-rata selama bulan Oktober pada dasarnya sudah berada di harga yang ideal,” ujar Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, Senin (20/11/2023).
Sementara untuk harga bawang merah, lanjut Gunawan, rata-rata ditransaksikan di kisaran Rp21 ribu per Kg selama bulan Oktober di Kota Medan.
Menurutnya, bawang merah harganya memang dinilai masih belum memenuhi kriteria harga yang ideal. Sehingga bawang merah dari sisi harga jual memang belum menguntungkan para petani. Mengingat harga keekonomian di tingkat petani di kisaran Rp18 hingga Rp20 ribu per Kg.
Sementara petani masih ada yang menjual di bawah harga keekonomian selama Oktober. Harga bawang merah di atas Rp25 ribu di tingkat pedagang pengecer dinilai sebagai angka yang lebih bersahabat bagi petani. Sementara untuk cabai merah, sejauh ini harga keekonomiannya ada di atas level Rp27 ribu di tingkat pedagang pengecer.
Sehingga harga di bulan Oktober itu sudah di atas harga keekonomiannya. Tetapi sayangnya nilai tukar petani khususnya petani hortikultura masih jauh dibawah angka 100. NTP tanaman hortikultura berada di level 87.71 di bulan Oktober, atau anjlok 2.56%. Dan anjloknya NTP di bulan Oktober kemarin inline dengan penurunan harga cabai merah, yang pada September dijual rata-rata Rp43 ribu per Kg.
“Kalau merinci indeks harga yang dibayar petani tanaman hortikultura, angkanya sebesar 116.24, lebih tinggi dibandingkan dengan indeks yang diterima oleh petani sebesar 101.95. Artinya pengeluaran petani masih lebih besar dibandingkan dengan apa yang didapat dari tanamannya. Dan yang lebih miris jika melihat indeks biaya produksi, angkanya justru naik 0.02% menjadi 117.07,” ungkapnya.
Menurutnya, harga jual tanamannya jelas tidak mampu menutup pengeluarannya. Petani mengalami kerugian di sini, daya belinya terpuruk dan neraca keuangannya negatif.
“Harga cabai yang pada dasarnya sudah di atas harga pokok produksi ditambah dengan margin keuntungan, nyatanya tidak membuat petani kita sejahtera, diukur dari besaran indeks yang masih dibawah 100,” ujarnya.
Pemerintah perlu upaya yang serius untuk menekan biaya yang dikeluarkan petani saat bercocok tanam. Termasuk juga upaya untuk terus menekan laju tekanan inflasi seiring dengan kenaikan harga beras belakangan ini.
“Jika agroinput bertahan di level sekarang, maka bukan petani saja yang dirugikan. Dalam jangka panjang harga cabai akan lebih mahal dan memicu terjadinya inflasi, karena menanam cabai tidak lagi menguntungkan buat petani,” pungkasnya. (R)





