MEDAN, Index Sumut – Pasar keuangan global kembali bergejolak setelah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Serangan besar Amerika Serikat ke Iran memicu lonjakan harga minyak mentah dunia sekaligus menekan sejumlah instrumen keuangan, mulai dari nilai tukar rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), hingga harga emas.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan harga minyak mentah dunia saat ini masih melanjutkan tren kenaikan. Untuk jenis Brent, harga minyak diperdagangkan di kisaran US$100 per barel.

Menurutnya, lonjakan harga minyak turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor 10 tahun yang kini berada di kisaran 4,257 persen, serta penguatan US Dollar Index ke level 99,69.

“Pergerakan dua indikator tersebut menunjukkan bahwa tekanan inflasi global kembali meningkat. Investor pun kembali memburu surat berharga Amerika Serikat karena muncul spekulasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, berpotensi menunda rencana pemangkasan suku bunga acuannya jika harga energi terus melonjak,” ujar Gunawan, Jumat (13/3).

Ia menjelaskan, penguatan dolar AS dan naiknya imbal hasil obligasi tersebut berdampak langsung pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Pada perdagangan pagi ini, rupiah terpantau melemah ke level Rp16.910 per dolar AS. Tekanan tersebut dipicu meningkatnya eskalasi konflik setelah Amerika Serikat memperbesar skala serangan terhadap Iran.

“Eskalasi perang menjadi sentimen utama yang menekan pasar keuangan domestik. Ketidakpastian global membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman,” katanya.

Tekanan juga terjadi di pasar saham. IHSG dibuka melemah ke level 7.338 pada perdagangan pagi. Pelemahan ini sejalan dengan mayoritas bursa saham di Asia yang turut bergerak di zona merah.

Gunawan menilai, kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan inflasi menjadi salah satu faktor utama. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan menekan kinerja emiten ke depan.

“Jika harga energi terus meningkat, biaya produksi perusahaan bisa ikut naik sehingga kemampuan emiten dalam mencetak laba berpotensi tertekan,” jelasnya.

Di sisi lain, harga emas dunia juga belum mampu menguat meskipun situasi geopolitik memanas. Saat ini harga emas global berada di kisaran US$5.125 per ons troy, atau sekitar Rp2,79 juta per gram.

Menurut Gunawan, tekanan terhadap emas masih berpotensi berlanjut, terutama jika data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis menunjukkan angka lebih tinggi dari perkiraan.

“Meski ada dukungan dari akumulasi emas oleh sejumlah bank sentral dunia seperti People’s Bank of China, harga emas masih kesulitan menguat karena penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi,” pungkasnya. (R)

Share: