MEDAN, Index Sumut – Bank Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Sumatera Utara, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga stabilitas keuangan sekaligus mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi daerah pascabencana. Upaya ini dilakukan melalui Forum North Sumatra Economic Xceleration Talk (NEXT) yang digelar di Medan, Kamis (12/3).

Forum tersebut dihadiri pemerintah daerah, pimpinan perbankan, akademisi, asosiasi, media, serta berbagai mitra strategis di Provinsi Sumatera Utara.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara Rudy Brando Hutabarat menekankan pentingnya strategi penguatan ekonomi daerah melalui pendekatan THR (Terobosan, Harmonisasi, Realisasi) dalam menghadapi dinamika global yang disebut sebagai era TUNA (Turbulence, Uncertainty, Novelty, Ambiguity).

Menurut Rudy, berbagai langkah strategis perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah, mulai dari memastikan kecukupan pasokan pangan dan kelancaran distribusi barang, hingga mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.

“Revitalisasi pasar tradisional dan penguatan peran UMKM juga menjadi bagian penting agar sektor riil tetap produktif,” ujarnya.

Ia menambahkan, sinergi antar pemangku kepentingan terus diperkuat untuk mendorong pengembangan sektor pertanian melalui hilirisasi serta memperkuat ketahanan pangan daerah. Upaya tersebut juga selaras dengan dukungan terhadap berbagai program strategis nasional yang menjadi prioritas pemerintah.

Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Utara Iman Gunadi menjelaskan bahwa perekonomian global saat ini masih dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta dampak perubahan iklim yang menekan produksi pangan dan stabilitas harga komoditas.

Di sisi lain, sejumlah komoditas global seperti minyak, crude palm oil (CPO), batubara, dan nikel justru menunjukkan tren kenaikan harga yang turut memengaruhi dinamika ekonomi nasional dan daerah.

Meski demikian, perekonomian Indonesia diperkirakan tetap tumbuh positif pada kisaran 4,9 hingga 5,7 persen, didukung stabilitas makroekonomi serta penguatan permintaan domestik.

“Perekonomian Sumatera Utara diprakirakan mulai pulih pada 2026 dan semakin menguat pada 2027 dengan pertumbuhan sekitar 5,1 persen,” jelasnya.

Dari sisi pemulihan bencana, Kepala Direktorat Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Perlindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis OJK Sumatera Utara Yusri menyampaikan bahwa pihaknya mendukung pemberian perlakuan khusus terhadap kredit atau pembiayaan bagi debitur yang terdampak banjir dan longsor.

Kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga keberlangsungan usaha masyarakat sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi di wilayah terdampak.

Selain itu, dukungan juga diberikan terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah disalurkan kepada 952 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan total nilai mencapai Rp1,02 triliun.

Sementara itu, Kepala Divisi Edukasi, Hubungan Masyarakat dan Kelembagaan LPS 1 Medan Pramuji Novri H menyampaikan bahwa kondisi perbankan di Sumatera Utara saat ini tetap kuat dengan likuiditas yang memadai.

“Perbankan masih memiliki ruang yang cukup untuk menjalankan fungsi intermediasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.

Di sisi fiskal, Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II DJPb Sumatera Utara Edy Purwanto mengungkapkan pemerintah juga melakukan penyesuaian kebijakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi daerah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Penyesuaian tersebut meliputi perpanjangan tenor kredit, penambahan plafon pembiayaan (suplesi), pemberian masa tenggang pembayaran (grace period), hingga usulan penghapusan kewajiban bagi debitur KUR yang usahanya tidak dapat dilanjutkan akibat bencana.

Melalui forum NEXT ini, diharapkan sinergi dan koordinasi kebijakan antar pemangku kepentingan semakin kuat dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah serta mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan. (R)

Share: