MEDAN, Index Sumut – Pergerakan pasar keuangan global menunjukkan dinamika yang kontras, di mana harga emas terus melambung tinggi di tengah stabilnya harga minyak dunia. Kondisi ini turut memberi tekanan pada nilai tukar rupiah yang semakin mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS), Selasa (31/3).
Harga minyak mentah dunia jenis Brent tercatat masih bertahan di kisaran US$105 per barel pada perdagangan terbaru, relatif stabil dibandingkan sesi sebelumnya. Sebaliknya, harga emas dunia justru mengalami lonjakan signifikan dan mendekati level psikologis US$4.600 per ons troy. Pada perdagangan pagi, emas diperdagangkan di sekitar US$4.596 per ons troy, atau setara Rp2,52 juta per gram.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah terpantau melemah ke level Rp16.992 per dolar AS. Dengan posisi tersebut, rupiah dinilai sangat rentan menembus level Rp17.000 dalam waktu dekat.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, mengatakan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
“Rupiah saat ini berada di zona yang sangat rentan. Dengan posisi mendekati Rp17.000 per dolar AS, besar kemungkinan mata uang kita akan menguji bahkan bertahan di level psikologis tersebut untuk sementara waktu, sambil menunggu arah baru dari sentimen global,” ujarnya, Selasa (31/3).
Ia menambahkan, lonjakan harga emas mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko global, khususnya konflik geopolitik yang belum mereda.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka menguat di level 7.122, namun kemudian bergerak melemah tipis dan masuk ke zona merah. Tekanan terhadap IHSG dinilai masih berasal dari ketidakpastian situasi di Timur Tengah.
Meski demikian, penguatan mayoritas bursa saham di Asia menjadi faktor penahan yang membatasi koreksi lebih dalam pada IHSG.
“Pasar sebenarnya mendapat sentimen positif dari data manufaktur China yang sudah kembali ke zona ekspansif di level 50,4. Namun, fokus pelaku pasar saat ini masih tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah,” jelas Gunawan.
Ia menilai, rencana aksi militer lanjutan oleh AS terhadap Iran menjadi salah satu faktor utama yang membayangi pergerakan pasar global. Kekhawatiran akan eskalasi konflik dalam jangka pendek membuat investor cenderung bersikap hati-hati.
“Selama ketegangan geopolitik belum mereda, pasar keuangan akan cenderung fluktuatif, dengan kecenderungan investor mengalihkan aset ke instrumen safe haven seperti emas,” pungkasnya. (R)





