MEDAN, Index Sumut – Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,75 persen. Kebijakan ini diambil di tengah rencana pergantian pimpinan bank sentral serta meningkatnya tekanan inflasi global.

Keputusan tersebut dinilai mencerminkan sikap hati-hati The Fed dalam merespons tekanan inflasi yang masih tinggi, terutama dipicu oleh kenaikan harga energi dan tensi geopolitik global, termasuk keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai kebijakan ini memberi sinyal bahwa bank sentral global masih cenderung mempertahankan kebijakan moneter ketat (hawkish).

“Keputusan The Fed ini menunjukkan bahwa risiko inflasi di AS masih cukup tinggi. Kondisi ini mendorong bank sentral lain untuk tetap berhati-hati, sehingga tekanan terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah semakin besar,” ujar Gunawan.

Dampaknya, nilai tukar rupiah terpantau melemah hingga ke level Rp17.360 per dolar AS, mendekati batas psikologis Rp17.400. Pelemahan ini dinilai berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian domestik.

Menurut Gunawan, tekanan terhadap rupiah dapat berdampak pada meningkatnya beban fiskal pemerintah, pelemahan pasar saham, hingga kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat.

Sejalan dengan itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat dibuka menguat di level 7.103, berbalik melemah dan bergerak di zona merah. IHSG bahkan mendekati level psikologis 7.000.

“Pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor utama yang membebani IHSG. Ditambah lagi, harga minyak dunia yang masih tinggi turut menekan sentimen pasar,” katanya.

Harga minyak mentah global saat ini masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel. Untuk jenis WTI tercatat berada di kisaran 109 dolar AS per barel, sementara Brent di kisaran 112 dolar AS per barel.

Di sisi lain, harga emas dunia relatif stabil di kisaran 4.568 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,56 juta per gram. Secara teknikal, emas diperkirakan masih mampu bertahan di tengah tekanan fundamental, termasuk dari kebijakan suku bunga The Fed.

Gunawan menambahkan bahwa kondisi pasar keuangan global saat ini masih akan diwarnai volatilitas tinggi, seiring kombinasi faktor geopolitik, kebijakan moneter, dan pergerakan harga komoditas. (R)

Share: