MEDAN, Index Sumut – Pelaku pasar tengah menanti rilis sejumlah data ekonomi penting, termasuk pertumbuhan ekonomi kuartal pertama (Q1), di tengah tekanan terhadap nilai tukar Rupiah yang kembali melemah.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan, pelemahan Rupiah terjadi di tengah kondisi eksternal yang relatif stabil. Rupiah tercatat berada di level Rp17.330 per dolar AS, meski indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun cenderung stabil bahkan menurun.
“Tekanan terhadap Rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh sentimen domestik yang memburuk, bukan dari faktor eksternal,” ujar Gunawan, Senin (4/5).
Sementara itu, harga minyak mentah dunia mengalami penurunan seiring sinyal pelonggaran sikap Iran yang membuka peluang negosiasi lanjutan. Harga minyak jenis WTI diperdagangkan di kisaran 101 dolar AS per barel, sedangkan Brent berada di sekitar 108 dolar AS per barel. Penurunan harga ini turut mendorong penguatan mayoritas bursa saham di Asia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dibuka menguat di level 6.988. Namun, penguatan tersebut dinilai rentan karena tidak didukung oleh stabilitas nilai tukar Rupiah.
“Pelemahan Rupiah berpotensi menjadi beban bagi IHSG sepanjang sesi perdagangan,” katanya.
Gunawan menambahkan, pelaku pasar saat ini juga mencermati potensi tekanan fiskal, terutama karena harga minyak mentah dunia masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel. Selain itu, data inflasi dan neraca perdagangan yang akan dirilis dalam waktu dekat juga menjadi perhatian utama investor.
“Data neraca perdagangan akan sangat berpengaruh terhadap arah pergerakan Rupiah ke depan,” jelasnya.
Lebih lanjut, pasar juga menunggu rilis data pertumbuhan ekonomi nasional. Secara tahunan (year on year), pertumbuhan ekonomi diproyeksikan masih berada di kisaran 5 persen. Namun, secara kuartalan, terdapat kekhawatiran akan adanya kontraksi.
“Pasar akan sangat fokus pada data pertumbuhan ekonomi kuartal pertama. Ada potensi kontraksi yang perlu diwaspadai karena akan memengaruhi ekspektasi pasar selanjutnya,” ungkap Gunawan.
Di sisi lain, harga emas terpantau berada di kisaran 4.600 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,57 juta per gram, mencerminkan masih tingginya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian pasar. (R)





