JAKARTA, Index Sumut – Harga emas dunia kembali bergerak melemah pada awal pekan ini, Senin (4/5/2026), di tengah tekanan ganda dari kekhawatiran inflasi yang masih tinggi serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari Reuters, pelaku pasar juga mencermati perkembangan negosiasi damai antara AS dan Iran yang turut memengaruhi sentimen global.

Secara perdagangan, harga emas tercatat turun 0,21% ke level US$ 4.605,11 per ons troi saat berita ini ditulis. Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman Juni terkoreksi 0,62% menjadi US$ 4.616,09 per ons troi.

Tekanan terhadap emas tidak lepas dari dinamika geopolitik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump menyatakan pemerintahannya akan memulai upaya pembebasan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz sebagai langkah kemanusiaan di tengah konflik dengan Iran.

Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Washington telah menyampaikan respons terhadap proposal damai 14 poin yang diajukan Teheran melalui Pakistan. Saat ini, Iran disebut tengah meninjau respons tersebut.

Meski harga minyak sempat melemah, posisinya masih bertahan di atas US$ 100 per barel. Kondisi ini menjaga tekanan inflasi global tetap tinggi dan menjadi faktor negatif bagi emas.

Kenaikan harga energi berpotensi mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Pada pekan lalu, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya serta mengisyaratkan kebijakan yang masih hawkish. Sinyal tersebut membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat.

Tekanan Inflasi Global

Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari mengatakan, semakin lama konflik Iran berlangsung, semakin besar risiko terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi, sehingga membatasi ruang gerak bank sentral dalam menentukan kebijakan suku bunga.

Senada, Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee menyebut data inflasi terbaru menjadi kabar buruk bagi bank sentral. Ia menilai The Fed perlu berhati-hati sebelum mempertimbangkan penurunan suku bunga.

Data terbaru menunjukkan inflasi AS meningkat pada Maret, dengan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,7%, menjadi kenaikan terbesar sejak Juni 2022. Lonjakan ini dipicu kenaikan harga energi di tengah konflik Iran.

Meski demikian, minat investor terhadap emas masih terjaga. Data menunjukkan spekulan meningkatkan posisi beli bersih (net long) sebanyak 3.924 kontrak menjadi 91.574 kontrak pada pekan yang berakhir 28 April.

Untuk logam mulia lainnya, harga perak naik 0,35% ke US$ 75,65 per ons troi, platinum melesat 0,86% ke US$ 2.009,25, dan paladium menguat 0,53% ke US$ 1.536,64.

Pelaku pasar kini menanti sejumlah data ekonomi penting, termasuk pesanan pabrik AS, yang dinilai dapat memberikan arah baru bagi kebijakan moneter dan pergerakan harga emas ke depan. (inv)

Share: