MEDAN, Index Sumut – Pergerakan pasar keuangan domestik pada awal pekan dibayangi sentimen global dan ketidakpastian geopolitik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah ke level 6.959, sementara nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh Rp17.370 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi kenaikan harga minyak mentah dunia dan penguatan indeks dolar AS di tengah meningkatnya tensi geopolitik global.

“Rupiah kembali mendekati level Rp17.400 per dolar AS seiring kenaikan harga minyak mentah dunia serta membaiknya kinerja USD Index. Kondisi ini membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, semakin besar,” ujarnya, Senin (11/5/2026).

Menurut Gunawan, pasar saat ini juga menaruh perhatian besar terhadap agenda peninjauan pembobotan indeks oleh MSCI (Morgan Stanley Capital International) yang akan berlangsung dalam sepekan ke depan. Keputusan MSCI dinilai akan sangat menentukan arah aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia.

“Pelaku pasar menunggu apakah MSCI akan menambah atau justru mengurangi bobot saham Indonesia. Ini penting karena dapat memengaruhi arus dana asing ke pasar domestik,” katanya.

Ia menjelaskan, sejumlah indikator ekonomi nasional masih menjadi perhatian investor global. Mulai dari data manufaktur yang mengalami kontraksi, kondisi defisit fiskal, pelemahan rupiah, hingga memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Meski demikian, Gunawan menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen menjadi sentimen positif yang diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor terhadap pasar domestik.

“Pertumbuhan ekonomi yang mampu melampaui ekspektasi menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menjaga optimisme pasar di tengah tekanan global,” jelasnya.

Di sisi lain, pasar juga dibayangi meningkatnya konflik di Timur Tengah. Israel disebut memperingatkan bahwa konflik dengan Iran belum sepenuhnya berakhir. Sementara itu, Amerika Serikat dilaporkan menolak proposal perdamaian Iran, dan Teheran menegaskan tidak akan tunduk terhadap tekanan AS maupun Israel.

Situasi tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Sementara itu, harga emas dunia justru bergerak melemah di tengah meningkatnya tensi geopolitik. Harga emas tercatat turun ke kisaran 4.683 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,62 juta per gram.

Gunawan menilai koreksi harga emas terjadi akibat aksi ambil untung investor setelah sebelumnya logam mulia mengalami kenaikan cukup signifikan.

“Meski terkoreksi, harga emas masih bertahan di atas level 4.500 dolar AS per ons troy. Fundamental emas masih cukup kuat sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global,” pungkasnya. (R)

Share: