JAKARTA, Index Sumut – Produsen otomotif asal Jepang, Honda Motor Co. mulai mengubah strategi elektrifikasinya di tengah melambatnya permintaan kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV), terutama di pasar Amerika Utara. Alih-alih agresif mengejar mobil listrik penuh, Honda kini memilih memperkuat pengembangan teknologi hybrid sebagai langkah transisi menuju elektrifikasi penuh.
Perubahan strategi tersebut disampaikan langsung Presiden dan CEO Global Honda, Toshihiro Mibe, dalam pemaparan strategi global perusahaan di Tokyo, Jepang, Rabu (13/5/2026).
Dalam kesempatan itu, Honda memperkenalkan dua purwarupa terbaru yakni Honda Hybrid Sedan Prototype dan Acura Hybrid SUV Prototype. Kehadiran dua model tersebut menjadi sinyal kuat bahwa teknologi hybrid akan menjadi fokus utama Honda dalam beberapa tahun ke depan.
Honda menyebut generasi terbaru kendaraan hybrid tersebut dibangun menggunakan sistem elektrifikasi baru, mulai dari platform kendaraan, sistem penggerak, hingga teknologi electric all-wheel drive (AWD). Model-model baru itu dijadwalkan mulai dipasarkan secara bertahap pada 2027 di berbagai pasar utama dunia.
Perusahaan menargetkan menghadirkan 15 model hybrid generasi terbaru hingga akhir tahun fiskal 2030. Honda mengklaim efisiensi energi kendaraan tersebut meningkat sekitar 10 persen dibanding generasi sebelumnya tanpa mengurangi karakter berkendara khas Honda.
Langkah memperkuat hybrid juga menjadi bentuk penyesuaian strategi Honda di tengah perlambatan pasar kendaraan listrik murni. Sebelumnya, Honda dikenal cukup agresif mengembangkan BEV, termasuk melalui rencana investasi besar di Amerika Utara.
Namun kini, Honda menangguhkan pembangunan pabrik kendaraan listrik dan baterai di Kanada yang nilainya mencapai sekitar 11 miliar dolar AS atau setara Rp191 triliun. Penundaan dilakukan karena permintaan kendaraan listrik di Amerika Serikat dinilai belum tumbuh sesuai harapan.
Tak hanya itu, Honda juga membatalkan produksi tiga model kendaraan listrik baru untuk pasar Amerika Utara. Perusahaan sebelumnya bahkan telah menunda target produksi kendaraan listrik di Kanada dari rencana awal 2028 menjadi sekitar dua tahun lebih lambat.
Situasi pasar kendaraan listrik global yang belum stabil membuat Honda memilih pendekatan lebih realistis dan bertahap. Teknologi hybrid dinilai menjadi solusi transisi yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen, terutama di negara-negara dengan infrastruktur kendaraan listrik yang belum sepenuhnya matang.
Meski demikian, Honda menegaskan komitmennya menuju target carbon neutrality pada 2050 tetap berjalan. Pengembangan kendaraan listrik generasi baru, baterai solid-state, hingga advanced driver assistance systems (ADAS) masih terus dilakukan secara paralel.
Honda juga menyiapkan investasi global sebesar 6,2 triliun yen dalam tiga tahun ke depan untuk mendukung transformasi tersebut. Investasi itu mencakup pengembangan kendaraan, perangkat lunak, dan teknologi elektrifikasi.
Dalam peta jalan globalnya, Honda menempatkan Asia, termasuk India dan kawasan ASEAN, sebagai wilayah strategis pertumbuhan jangka panjang. Karena itu, teknologi hybrid generasi terbaru Honda nantinya akan dikembangkan sesuai karakter dan kebutuhan konsumen di masing-masing negara.
“Honda akan terus menghadirkan produk yang tidak hanya efisien dan relevan dengan kebutuhan konsumen saat ini, tetapi juga tetap mempertahankan pengalaman berkendara yang menyenangkan,” kata Mibe. (Rep)





