MEDAN, Index Sumut – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan hari ini dan ditutup melemah 3,54 persen di level 6.094,941. Koreksi tajam terjadi hampir di seluruh sektor, dengan sebanyak 663 saham ditutup di zona merah, sementara hanya 88 saham yang menguat dan 69 saham stagnan.
Sejumlah saham berbasis komoditas dan ekspor menjadi yang paling terpukul dalam perdagangan kali ini, di antaranya saham AALI, SGRO, BUMI, BRPT, ANTM, BRMS, DEWA, BREN, MEDC hingga ENRG.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin menilai tekanan terhadap IHSG dipicu sentimen domestik, khususnya rencana pemerintah menerapkan sistem satu pintu untuk ekspor produk sumber daya alam.
“Pelaku pasar melihat kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi fleksibilitas eksportir dan kinerja emiten berbasis sumber daya alam. Itu sebabnya saham sektor pertambangan dan perkebunan mengalami tekanan cukup besar,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, pelemahan IHSG kali ini juga tergolong anomali jika dibandingkan dengan mayoritas bursa saham Asia yang justru bergerak cenderung menguat.
“Mayoritas bursa saham Asia hari ini bergerak variatif dengan kecenderungan menguat. Jadi koreksi dalam pada IHSG menunjukkan adanya tekanan domestik yang cukup dominan,” katanya.
Tidak hanya pasar saham, nilai tukar rupiah juga kembali melemah pada perdagangan hari ini. Rupiah sempat tertekan hingga level Rp17.680 per dolar AS sebelum akhirnya ditutup di level Rp17.640 per dolar AS.
Gunawan menjelaskan, penguatan rupiah yang sempat terjadi pasca kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia mulai kehilangan momentum karena pasar kini menanti sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter.
“Pasar tidak hanya membutuhkan kebijakan moneter yang hawkish dari BI, tetapi juga mengharapkan kebijakan fiskal pemerintah yang adaptif terhadap kondisi ekonomi global,” jelasnya.
Ia menambahkan, jika kebijakan fiskal dinilai kurang sejalan dengan kebutuhan pasar, maka tekanan terhadap aset keuangan domestik masih berpotensi berlanjut.
Sementara itu, harga emas dunia juga kembali melemah dan diperdagangkan di level 4.530 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,59 juta per gram. Meski terkoreksi, harga emas dinilai masih relatif kuat di tengah ketidakpastian global.
“Harga emas saat ini masih menunggu sentimen lanjutan dari perkembangan negosiasi damai antara Iran dan AS. Selama tensi geopolitik belum benar-benar mereda, emas masih akan menjadi aset lindung nilai yang diminati,” pungkasnya. (R)





