MEDAN, Index Sumut – Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan kembali menggelar Focus Group Discussion (FGD) penyusunan kurikulum dengan fokus utama pengembangan Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan, di Aula Polbangtan Medan, Selasa (26/5).
Kegiatan ini mengusung tema “Pengembangan Kurikulum Berbasis Outcome Based Education (OBE) Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan Polbangtan Medan untuk Menghasilkan SDM Pertanian yang Profesional dan Berdaya Saing Global”.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis menyatukan visi antara akademisi, pemerintah, praktisi, dan mitra industri dalam merumuskan materi ajar yang benar-benar relevan dengan tantangan riil di lapangan. Diskusi berlangsung sangat dinamis, di mana berbagai masukan konkret disampaikan guna menyempurnakan kompetensi lulusan, mulai dari penguasaan teknologi, kemampuan teknis, hingga pembentukan karakter dan integritas.
Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, dalam sambutannya menegaskan bahwa penyuluh pertanian adalah ujung tombak keberhasilan pembangunan pertanian nasional. Oleh karena itu, kualitas pendidikan penyuluhan harus terus diperbarui mengikuti zaman.
“Penyuluh pertanian masa depan tidak boleh hanya pandai teori, tapi harus menguasai seluruh aspek, mulai dari budidaya, pengendalian hama penyakit, pasca panen, hingga pemasaran. Kurikulum penyuluhan harus mencakup teknologi pertanian modern, kewirausahaan, hingga isu strategis seperti perubahan iklim dan pertanian ramah lingkungan. Kita butuh penyuluh yang menjadi mitra sejati petani, yang solutif dan membawa kemajuan,” tegas Mentan Amran.
Lebih lanjut ia menambahkan, transformasi pendidikan vokasi adalah keharusan agar lulusan Polbangtan menjadi tenaga kerja yang siap pakai, kompeten, dan memiliki daya saing tinggi di kancah global.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengapresiasi inisiatif Polbangtan Medan yang terus berinovasi. Menurutnya, pendekatan kurikulum berbasis hasil atau OBE adalah metode paling tepat untuk menjamin keselarasan antara apa yang dipelajari di kampus dengan apa yang dibutuhkan dunia kerja.
“Kurikulum harus hidup, harus dinamis, dan selalu diperbarui. Berdasarkan masukan di lapangan, masih ada celah di mana penyuluh kurang memahami hama penyakit, lemah dalam menyusun programa kerja, hingga kalah paham teknologi dibandingkan petani. Hal inilah yang harus diperbaiki. Mahasiswa harus dibekali sistem pembelajaran partisipatif, praktik langsung, dan penguasaan teknologi tepat guna, sehingga saat terjun, mereka membawa solusi, bukan masalah,” ujar Idha Widi Arsanti.
Dalam arahannya, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Muhammad Amin, menyoroti pentingnya perluasan wawasan mahasiswa penyuluh. Menurutnya, tugas penyuluh saat ini sangat luas, tidak lagi hanya soal tanaman, melainkan lintas sektor dan lintas komoditas.
“Penyuluh masa depan wajib memiliki wawasan luas. Mereka harus paham peternakan, mekanisasi pertanian, irigasi, kesehatan tanah, hingga manajemen pasca panen dan pemasaran. Mereka harus paham konsep pertanian permakultur, pengelolaan limbah, hingga adaptasi perubahan iklim. Selain kemampuan teknis, pembinaan karakter, etika profesi, disiplin, dan integritas harus menjadi fondasi utama. Jangan lupa juga penguatan program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MBKM) agar mahasiswa matang sebelum lulus,” jelas Muhammad Amin.
Direktur Polbangtan Medan, Nurliana Harahap, dalam laporannya menyampaikan bahwa FGD ini merupakan wadah menyerap aspirasi langsung dari pemangku kepentingan. Berbagai masukan krusial telah tercatat dan akan segera diintegrasikan ke dalam struktur kurikulum baru.
“Kami menerima banyak masukan berharga. Mulai dari perlunya materi deteksi hama penyakit yang lebih mendalam, pentingnya kemampuan pemasaran sejak dini, penguasaan aplikasi layanan pertanian, hingga tuntutan karakter lulusan yang tangguh, religius, dan bertanggung jawab. Kami juga sepakat memperkuat kolaborasi dengan Dinas Pertanian, Balai Karantina, P4S, dan industri agar tempat Praktik Kerja Lapangan (PKL) semakin berkualitas dan terukur. Kurikulum kita harus link and match mutlak dengan kebutuhan industri dan pemerintah,” ungkap Nurliana Harahap.
Dalam sesi diskusi, berbagai pemangku kepentingan menyampaikan pandangannya secara rinci. Salah satu narasumber, Siti Nurjannah menekankan perlunya penguatan kemampuan penyusunan programa kerja, budaya kerja, serta etika profesi. Dari sisi Aliansi Organis Indonesia, Iswan Sahputra mengusulkan tiga materi wajib masuk kurikulum: pemahaman perubahan iklim, metode PRA (Participatory Rural Appraisal) untuk penyuluhan partisipatif, dan konsep pertanian permakultur berkelanjutan.
Ketua Tim Pengembang, Purnama Daulay, mengingatkan agar mahasiswa diajarkan pemasaran sebelum budidaya, serta wajib mahir menggunakan teknologi dan aplikasi pertanian, seperti sistem layanan padi BRMP. Perwakilan Balai Besar Karantina menyoroti kelemahan penyuluh dalam identifikasi hama dan penyakit, serta perlunya pemahaman standar perdagangan dan ekspor.
Sementara itu, dari P4S Cendawan menyarankan materi pengolahan limbah (zero waste) dan kejelasan sistem sertifikasi. Kepala Tim Kerja Penyuluh Pertanian (KATIMKER) Langkat, Sulastri, serta perwakilan Dinas Pertanian Langkat, Sergei, sepakat bahwa lulusan harus memiliki wawasan lintas sektor, termasuk dasar peternakan, serta memperkuat mental kerja keras dan integritas.
Perwakilan BRMP mengingatkan agar mahasiswa diberikan bekal informasi lokasi pendampingan sebelum terjun, mengingat ke depan akan ada program strategis nasional seperti swasembada bawang putih yang butuh SDM siap siaga. Pak Nababan dari Petrasa juga mengusulkan materi kesehatan tanah dan penguatan jiwa wirausaha agar lulusan mau kembali membangun desa.
FGD ini ditutup dengan kesepakatan bahwa seluruh masukan akan disusun menjadi rancangan kurikulum final. Harapannya, Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan Polbangtan Medan semakin kokoh melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga unggul dalam keterampilan, berkarakter mulia, dan menjadi motor penggerak kemajuan pertanian Indonesia. (R)





