NEW YORK, Index Sumut – Harga minyak dunia melonjak tajam lebih dari 4% pada perdagangan Senin (1/6/2026) setelah pasar dikejutkan laporan bahwa Iran menghentikan negosiasi tidak langsung dengan Amerika Serikat (AS) dan menyiapkan opsi pemblokiran Selat Hormuz. Ancaman terhadap salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia itu langsung memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan minyak global.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup naik US$3,86 atau 4,2% ke level US$94,98 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melesat US$4,80 atau 5,5% menjadi US$92,16 per barel.
Kedua kontrak bahkan sempat melonjak lebih dari 6% pada awal perdagangan sebelum memangkas sebagian penguatannya. Koreksi tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan dirinya tidak mengetahui adanya penghentian pembicaraan dengan Iran.
Trump juga mengklaim telah berkomunikasi melalui perantara dengan kelompok Hizbullah dan memperoleh jaminan bahwa kelompok tersebut tidak akan menyerang Israel.
Lonjakan harga minyak terjadi di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah setelah Iran dan AS saling melancarkan serangan dalam beberapa hari terakhir. Pada saat bersamaan, Israel memerintahkan pasukannya bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon dalam operasi militer melawan Hizbullah yang didukung Iran.
Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Iran bersama kelompok yang disebut “Front Perlawanan”, yang mencakup sekutu-sekutunya di Yaman, Lebanon, dan Irak, telah menyusun agenda untuk memblokade Selat Hormuz secara penuh. Kelompok tersebut juga disebut mempertimbangkan aktivasi front lain, termasuk Selat Bab el-Mandeb, untuk meningkatkan tekanan terhadap Israel dan negara-negara pendukungnya.
Ancaman terhadap dua jalur pelayaran strategis tersebut dinilai dapat mengganggu arus perdagangan energi global. Selat Bab el-Mandeb yang berada di ujung selatan Laut Merah merupakan salah satu koridor utama pengiriman minyak dunia.
Menurut Direktur Eksekutif Mizuho, Robert Yawger, Arab Saudi saat ini mengirim sekitar 4 juta hingga 6 juta barel minyak per hari melalui jalur tersebut.
Presiden Lipow Oil Associates Andrew Lipow menilai situasi saat ini menunjukkan jurang perbedaan yang semakin lebar di antara pihak-pihak yang berkonflik.
“Sepertinya kedua belah pihak berada di dunia yang berbeda,” ujar Lipow.
Menurut dia, semakin lama konflik berlangsung, semakin besar risiko penyusutan persediaan minyak komersial global.
“Semakin lama konflik berlanjut, semakin rendah persediaan komersial. Pada titik tertentu, harga akan melonjak tajam. Kita mungkin hanya berjarak satu hingga dua bulan dari kondisi itu,” katanya.
Ancaman Gangguan Pasokan Global
Eskalasi konflik yang terus meningkat membuat harapan tercapainya penyelesaian damai dalam waktu dekat semakin menipis. Pelaku pasar khawatir gangguan terhadap Selat Hormuz akan memperburuk distribusi minyak dan gas alam cair (LNG) global.
Kecemasan itu semakin menguat setelah laporan Axios menyebut Iran telah menambah ranjau di kawasan Selat Hormuz pada pekan lalu.
Pelaku industri pelayaran yang menghadiri pertemuan di Athena, Yunani, pada Senin menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai harus disertai aturan yang jelas agar aktivitas pelayaran internasional dapat kembali berjalan normal melalui Selat Hormuz.
Di tengah ancaman gangguan pasokan, pasar juga menghadapi kekhawatiran lain dari sisi permintaan. Data terbaru menunjukkan aktivitas manufaktur China masih lemah, memicu kekhawatiran terhadap prospek konsumsi energi di negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut.
Goldman Sachs pada Minggu memperingatkan bahwa lemahnya permintaan minyak di China dan Eropa menjadi risiko utama bagi proyeksi harga Brent sebesar US$90 per barel dan WTI sebesar US$83 per barel pada kuartal IV-2026. Meski demikian, bank investasi tersebut menilai potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah masih dapat menjadi katalis yang mendorong harga minyak lebih tinggi.
Sementara itu, survei Reuters menunjukkan Arab Saudi kemungkinan kembali memangkas harga jual resmi minyak mentah ke pasar Asia pada Juli untuk bulan kedua berturut-turut.
Dari sisi pasokan global, pemerintah Rusia dikabarkan akan meningkatkan impor bahan bakar dari Belarus dan memperketat pengawasan ekspor bensin serta solar guna memenuhi kebutuhan dalam negeri. Bahkan, larangan penuh ekspor bensin selama dua bulan dilaporkan sedang dipertimbangkan.
Di AS, persediaan minyak mentah diperkirakan turun sekitar 3,6 juta barel pada pekan yang berakhir 29 Mei, memperpanjang tren penurunan yang terjadi pada pekan sebelumnya. Stok bensin dan produk distilat juga diperkirakan mengalami penyusutan.
Sementara itu, Kazakhstan melaporkan produksi minyaknya telah kembali normal setelah gangguan operasional di ladang minyak Tengiz. Di sisi lain, ekspor minyak Venezuela naik tipis menjadi 1,25 juta barel per hari pada Mei, menandai kenaikan bulanan ketiga secara berturut-turut yang didorong oleh peningkatan pengiriman ke AS, India, dan Eropa. (inv)





