MEDAN, Index Sumut – Pergerakan pasar keuangan Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah beragam data ekonomi yang dirilis pada awal pekan ini. Meski inflasi nasional tercatat meningkat dan mendekati batas atas target Bank Indonesia, rupiah, emas, hingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berhasil ditutup menguat.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin menilai pelaku pasar saat ini sedang menimbang berbagai sentimen yang datang secara bersamaan, mulai dari inflasi, kinerja sektor manufaktur, hingga kebijakan pemerintah terkait devisa hasil ekspor (DHE).

Data inflasi Indonesia pada periode terbaru tercatat sebesar 3,08 persen secara tahunan (year on year). Angka tersebut semakin mendekati batas atas target inflasi Bank Indonesia yang berada di level 3,5 persen.

“Inflasi yang naik hingga di atas 3 persen tentu menjadi perhatian pasar karena menunjukkan tekanan harga masih cukup tinggi. Kondisi ini berpotensi membatasi ruang kebijakan moneter ke depan dan menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan,” ujar Gunawan Benjamin, Selasa (2/6/2026) sore.

Di sisi lain, pasar memperoleh kabar positif dari sektor manufaktur. Indeks manufaktur Indonesia kembali masuk ke zona ekspansi yang menandakan aktivitas industri nasional masih bertumbuh.

Namun demikian, sentimen positif tersebut sedikit tertahan oleh data neraca perdagangan Indonesia yang menunjukkan surplus menyusut tajam menjadi hanya sekitar 90 juta dolar AS pada April. Menurut Gunawan, mengecilnya surplus perdagangan menjadi sinyal bahwa kemampuan Indonesia dalam menghasilkan pasokan devisa dari sektor eksternal mulai berkurang dibandingkan periode sebelumnya.

Meski dihimpit sejumlah sentimen beragam, pasar saham domestik tetap mampu mencatatkan penguatan. IHSG ditutup naik 1,11 persen ke level 6.195,427.

Mata uang rupiah juga berhasil berbalik arah setelah sempat melemah mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada sesi perdagangan pagi. Di akhir perdagangan, rupiah ditutup menguat ke level Rp17.835 per dolar AS.

Menurut Gunawan, penguatan rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh data ekonomi yang dirilis, tetapi juga ekspektasi pasar terhadap efektivitas kebijakan pemerintah dalam mengelola devisa hasil ekspor.

“Saat ini pelaku pasar menunggu implementasi kebijakan pengelolaan devisa hasil ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Jika kebijakan ini mampu meningkatkan aliran devisa ke pasar domestik, maka akan menjadi faktor pendukung stabilitas rupiah dalam jangka menengah,” jelasnya.

Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada rencana pemerintah menerbitkan obligasi dalam mata uang asing pada bulan ini. Langkah tersebut dinilai dapat membantu menambah pasokan valuta asing sekaligus memperkuat cadangan likuiditas di pasar keuangan domestik.

Sementara itu, harga emas dunia kembali menguat di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Emas diperdagangkan di level US$4.528 per ons troy atau sekitar Rp2,6 juta per gram.

Kenaikan harga emas terjadi setelah negosiasi damai antara Iran dan Amerika Serikat dilaporkan mengalami kebuntuan (deadlock), sehingga mendorong investor kembali memburu aset safe haven.

“Ketika ketidakpastian geopolitik meningkat, emas biasanya menjadi pilihan utama investor untuk melindungi nilai asetnya. Karena itu harga emas kembali bergerak naik seiring meningkatnya permintaan pasar global,” kata Gunawan.

Ke depan, pasar diperkirakan masih akan bergerak volatil dengan fokus utama pada perkembangan inflasi, efektivitas kebijakan devisa hasil ekspor, penerbitan obligasi pemerintah, serta dinamika geopolitik yang berpotensi memengaruhi arus modal dan nilai tukar rupiah. (R)

Share: