MEDAN, Index Sumut – Tekanan di pasar keuangan kembali meningkat pada perdagangan hari ini, Rabu (3/6). Nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS), sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga emas juga mengalami koreksi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.

Fokus pelaku pasar kini tertuju pada perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas. Pasar mencermati tuduhan AS bahwa Iran memasang ranjau di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga minyak mentah.

Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) pada perdagangan pagi tercatat naik ke level US$94,58 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent diperdagangkan di kisaran US$96,7 per barel. Kenaikan harga minyak menjadi indikasi bahwa pasar masih dibayangi risiko geopolitik yang tinggi.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai gejolak geopolitik di Timur Tengah saat ini menjadi sentimen dominan yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan global.

“Pasar saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan konflik dan ketegangan geopolitik. Kenaikan harga minyak mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko gangguan pasokan energi dunia. Kondisi ini berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia,” ujar Gunawan.

Di pasar saham, IHSG sempat dibuka menguat pada level 6.207. Namun penguatan tersebut tidak bertahan lama dan indeks berbalik melemah hingga bergerak di sekitar level support 6.070.

Menurut Gunawan, pelemahan IHSG tidak hanya dipicu sentimen eksternal, tetapi juga dipengaruhi sejumlah data ekonomi domestik yang belum mampu memberikan dorongan positif bagi pasar.

“Salah satu yang menjadi perhatian investor adalah surplus neraca perdagangan Indonesia yang mengalami penyusutan. Meskipun masih surplus, nilainya yang mengecil memunculkan kekhawatiran terhadap ketahanan eksternal perekonomian nasional di tengah tekanan global yang semakin besar,” katanya.

Tekanan juga terlihat pada nilai tukar rupiah yang kembali melemah hingga Rp17.900 per dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi setelah pasar mencermati sejumlah indikator ekonomi domestik yang dinilai kurang meyakinkan, bersamaan dengan menguatnya dolar AS di pasar global.

Sementara itu, dari pasar komoditas, harga emas dunia turut mengalami koreksi ke level sekitar US$4.478 per ons troy. Di pasar domestik, harga emas setara berada di kisaran Rp2,59 juta per gram.

Gunawan menjelaskan bahwa koreksi harga emas dipicu oleh membaiknya data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang memunculkan spekulasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam waktu dekat.

“Data tenaga kerja AS yang lebih baik dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa The Fed belum akan terburu-buru menurunkan suku bunga. Kondisi ini mendorong penguatan dolar AS dan membuat aset safe haven seperti emas mengalami tekanan jangka pendek,” jelasnya.

Ke depan, pasar diperkirakan masih akan bergerak volatil. Investor akan terus mencermati perkembangan negosiasi antara AS dan Iran, arah kebijakan moneter The Fed, serta respons pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik di tengah tekanan eksternal yang semakin kompleks. (R)

Share: