MEDAN, Index Sumut – Nilai tukar rupiah untuk pertama kalinya menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot pada perdagangan pagi ini, Kamis (4/6/2026).

Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta spekulasi terkait kemungkinan perubahan peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional.

Selain menekan nilai tukar rupiah, sentimen negatif tersebut juga membebani pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka di zona merah dan melanjutkan tren pelemahan yang telah terjadi dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan bahwa fokus utama pelaku pasar saat ini tertuju pada perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah serta keputusan lembaga pemeringkat internasional terkait kelayakan kredit Indonesia.

“Pasar masih sangat sensitif terhadap sentimen eksternal. Selain perkembangan konflik di Timur Tengah, investor juga menunggu keputusan lembaga pemeringkat seperti S&P terkait posisi credit rating Indonesia. Spekulasi mengenai potensi penurunan peringkat kredit membuat pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko,” ujar Gunawan.

Pada perdagangan pagi ini, IHSG dibuka melemah di level 5.919 dan terus mengalami tekanan hingga mendekati level psikologis 5.800. Mayoritas bursa saham di Asia juga bergerak di zona merah seiring meningkatnya kehati-hatian investor global.

Menurut Gunawan, pidato yang disampaikan Presiden sebelumnya belum mampu memberikan katalis positif yang cukup kuat untuk mengubah arah pasar. Akibatnya, investor memilih mengambil posisi wait and see sambil menanti kepastian dari hasil penilaian lembaga pemeringkat internasional.

“Pelaku pasar saat ini lebih memilih menunggu. Ketidakpastian yang tinggi membuat investor cenderung menahan diri sebelum mengambil keputusan investasi yang lebih agresif,” katanya.

Di pasar valuta asing, rupiah tercatat diperdagangkan pada kisaran Rp18.010 per dolar AS, menandai pertama kalinya mata uang Garuda menembus level Rp18.000 di pasar spot. Pelemahan tersebut dinilai berpotensi memberikan tekanan lanjutan terhadap pasar saham domestik.

Gunawan menambahkan, posisi Indonesia dalam mempertahankan status investment grade menjadi perhatian utama investor. Keputusan dari lembaga pemeringkat seperti S&P, Moody’s, dan Fitch Ratings akan menjadi faktor penting yang menentukan arah pasar keuangan dalam jangka pendek.

Sementara itu, harga emas dunia masih menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Emas diperdagangkan di kisaran US$4.461 per ons troy atau setara sekitar Rp2,59 juta per gram.

“Emas masih menjadi aset lindung nilai yang diminati investor saat risiko global meningkat. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang kembali memanas membuat permintaan terhadap aset aman tetap tinggi,” jelas Gunawan.

Ia memperkirakan volatilitas di pasar keuangan domestik masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan hingga muncul kepastian terkait perkembangan geopolitik dan hasil penilaian lembaga pemeringkat internasional terhadap perekonomian Indonesia. (R)

Share: