MEDAN, Index Sumut – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil, khususnya produsen tempe dan tahu. Lonjakan harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama membuat biaya produksi melonjak tajam dan mengancam keberlangsungan usaha mikro di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan bahwa pelemahan rupiah telah mendorong kenaikan harga kedelai dari kisaran Rp9.000-Rp9.600 per kilogram pada awal tahun menjadi sekitar Rp10.800 per kilogram saat ini.
“Kenaikan harga kedelai mencapai sekitar 16 persen lebih. Bagi pelaku usaha tahu skala kecil yang mengolah sekitar 400 kilogram kedelai per hari, tambahan biaya yang harus ditanggung bisa mencapai Rp480 ribu per hari hanya dari kenaikan harga kedelai,” ujarnya.
Menurut Gunawan, beban tersebut semakin berat setelah harga minyak goreng juga mengalami kenaikan sekitar Rp2.000 per kilogram. Akibatnya, total tambahan biaya operasional yang harus ditanggung produsen tahu kini mendekati Rp500 ribu per hari.
“Jika dihitung dalam satu bulan, tambahan biaya produksi bisa mencapai Rp15 juta. Angka ini sangat besar bagi usaha mikro dan kecil yang margin keuntungannya relatif tipis,” katanya.
Meski biaya produksi meningkat signifikan, banyak pelaku usaha belum berani menaikkan harga jual secara penuh karena khawatir kehilangan pelanggan. Saat ini harga satu papan tahu kecil hanya naik dari Rp36 ribu menjadi Rp38 ribu, sementara kenaikan biaya bahan baku mencapai sekitar Rp2.400 per papan.
Gunawan menilai kondisi saat ini tidak lazim. Pasalnya, secara historis harga kedelai pada pertengahan tahun biasanya berada pada level yang lebih rendah dibandingkan akhir tahun.
“Kalau melihat pola tahun lalu, harga kedelai di periode sekarang seharusnya masih berada di kisaran Rp9.000 per kilogram. Kenaikan saat ini lebih banyak dipicu oleh pelemahan rupiah dan ketidakpastian pasar global,” jelasnya.
Ia memperkirakan apabila nilai tukar rupiah tetap berada pada level lemah hingga akhir tahun, harga kedelai berpotensi menembus Rp13.000 per kilogram.
Tidak hanya produsen tahu, pelaku usaha tempe juga menghadapi tekanan serupa. Namun sebagian produsen memilih strategi lain untuk mempertahankan harga jual, yakni mengurangi ukuran produk atau yang dikenal dengan istilah shrinkflation.
Sebagai contoh, tempe yang sebelumnya memiliki berat sekitar 250 gram dan dijual Rp2.500 kini hanya berbobot sekitar 230 gram dengan harga yang tetap sama. Artinya terjadi pengurangan isi sekitar 8 persen tanpa perubahan harga.
“Fenomena ini menunjukkan adanya inflasi tersembunyi yang tidak langsung terlihat oleh konsumen. Harga memang tidak berubah, tetapi jumlah produk yang diterima pembeli menjadi lebih sedikit,” kata Gunawan.
Selain kenaikan harga kedelai, produsen tempe juga mengeluhkan naiknya harga plastik kemasan yang semakin menambah biaya produksi. Di sejumlah daerah, bahkan ditemukan kenaikan harga tempe hingga 20 persen sepanjang Mei lalu.
Gunawan mengingatkan bahwa apabila pelemahan rupiah berlanjut dan harga bahan baku impor terus meningkat, maka tekanan terhadap pelaku UMKM pangan akan semakin besar dan berpotensi mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok di tingkat konsumen.
“Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena tempe dan tahu merupakan sumber protein utama masyarakat. Jika biaya produksi terus meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku usaha, tetapi juga konsumen,” pungkasnya. (R)





