MEDAN, Index Sumut – Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan menjelang keputusan penting Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) terkait suku bunga acuannya. Pelaku pasar global saat ini memilih bersikap hati-hati sembari menanti arah kebijakan moneter AS yang diperkirakan akan memengaruhi pergerakan mata uang, pasar saham, hingga harga emas.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, fokus utama pasar keuangan saat ini tertuju pada rapat kebijakan The Fed yang digelar malam ini waktu Amerika Serikat.
“Sejauh ini pasar memperkirakan The Fed masih akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,75 persen. Namun pelaku pasar melihat nada kebijakan The Fed masih cenderung hawkish atau ketat, sehingga memicu kehati-hatian investor,” ujar Gunawan, Rabu (17/6).
Menurutnya, mayoritas bursa saham Asia pada perdagangan pagi bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. Investor masih menunggu kepastian arah kebijakan moneter AS sebelum mengambil keputusan investasi yang lebih agresif.
Selain faktor suku bunga, pasar juga mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Amerika Serikat dikabarkan akan menyerahkan rincian kesepakatan perdamaian dengan Iran kepada Kongres AS. Meski ketegangan di kawasan tersebut mulai mereda, pasar masih menunggu kepastian dan implementasi nyata dari kesepakatan tersebut.
Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat ke level 6.321 dan masih bertahan di zona hijau. Namun penguatan pasar saham tidak diikuti oleh kinerja rupiah yang justru melemah hingga menyentuh level Rp17.750 per dolar AS.
Gunawan menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi meningkat dalam jangka pendek, terutama jika hasil pertemuan The Fed tidak sesuai dengan ekspektasi pasar.
“Ada dua skenario yang perlu diwaspadai. Pertama, The Fed mempertahankan suku bunga tetapi memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat ke depan. Kedua, The Fed justru kembali menaikkan suku bunga. Kedua skenario tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah,” jelasnya.
Sementara itu, harga emas dunia bergerak di kisaran US$4.343 per ons troy atau setara sekitar Rp2,27 juta per gram. Harga logam mulia tersebut masih mendapat dukungan dari meredanya tensi geopolitik antara AS dan Iran.
Meski demikian, prospek kenaikan suku bunga atau sikap hawkish The Fed menjadi faktor yang membatasi penguatan emas. Kondisi tersebut membuat investor memilih menunggu hasil keputusan bank sentral AS sebelum menentukan langkah investasi berikutnya.
“Untuk sementara pasar cenderung mengambil posisi wait and see. Pelaku pasar menunggu arah kebijakan The Fed yang akan menjadi penentu utama pergerakan rupiah, saham, maupun harga emas dalam waktu dekat,” pungkas Gunawan. (R)





