Index Sumut – Harga pangan pokok seperti beras, gandum, maupun sejumlah kebutuhan pangan pokok lainnya yang tergolong pada komoditas cereal akan sangat dipengaruhi oleh kondisi global.

Dimana perang atau masalah geopolitik yang akan banyak mendominasi perputaran pasokannya yang tentunya akan bermuara kepada pembentukan harga kedepan.

Pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin menyebutkan, pada dasarnya Indonesia mampu memproduksi beras dan hanya memiliki kebutuhan sedikit dari negara lain. Namun penyusutan lahan ditambah dengan gangguan iklim membuat pengendalian pasokannya belakangan harus didatangkan dengan cara diimpor.

“Nah importasi ini yang akan lebih banyak dipengaruhi oleh pasokan dari negara produsen, dan dipengaruhi oleh masalah perubahan iklim, geopolitik seperti perang, proteksi yang dilakukan negara produsen, hingga masalah gangguan supply chain lainnya termasuk distribusi bahan baku input produksi seperti pupuk,” ujar Gunawan.

Jika melihat harga bahan pangan pokok seperti beras, lanjutnya, pada dasarnya sudah mencerminkan harga keekonomian yang dihitung dari saat pertama kali ditanam, ditambah dengan rantai pasok hingga ke konsumen akhir.

“Pada dasarnya ruang kenaikan sudah sangat terbatas atau bahkan kecil sekali kemungkinannya. Namun dunia tengah berhadapan dengan banyak ketidakpastian seperti masalah perang yang bisa merusak tatanan harga pangan pokok saat ini,” katanya.

Selanjutnya, untuk tanaman pangan yang mampu dihasilkan di tanah air seperti hortikultura, maka ketergantungan akan agroinput seperti pupuk menjadi faktor utamanya. Selanjutnya disusul oleh masalah cuaca dan distribusi. Untuk cuaca yang paling sulit diproyeksikan sebagai salah satu faktor pemicu perubahan harga di lapangan.

Sementara itu, kalau dilihat dari sisi pasokan yang menyesuaikan kebutuhan, umumnya para petani dan peternak sudah memiliki pola untuk memenuhi kebutuhan di saat hari normal maupun hari-hari tertentu.

“Nah melesetnya pasokan justru paling besar dipicu oleh penurunan harga yang terjadi sebelumnya. Atau dipicu oleh bencana alam seperti banjir hingga intensitas hujan yang tinggi atau kemarau yang berkepanjangan,” sebutnya.

“Secara keseluruhan, masalah pengendalian harga di tahun depan terletak pada bagaimana kita mampu untuk megendalikan pasokannya. Yang paling rumit adalah jika ketergantungan pasokan lebih banyak didominasi dari negara lain atau impor. Sementara untuk produksi pangan yang mampu dihasilkan secara mandiri, tantangan utamanya ada pada pupuk,” pungkasnya. (R)

Share: