Index Sumut – Berdasarkan data BPS Sumut, pada November 2023 nilai ekspor Sumut turun 6,80 persen dibandingkan Oktober 2023, bahkan dibandingkan dengan November 2022, ekspor Sumut November 2023 turun 13,84 persen.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin menilai, penurunan kinerja ekspor Sumut yang terjadi pada bulan November 2023, menyisakan kekuatiran akan adanya penurunan permintaan dari negara tujuan ekspor.
“Karena secara riil kinerja ekspor Sumut juga melemah sekitar 13,84%, jika membandingkan antara November 2023 dengan November 2022. Kalau kinerjanya dihitung dari sisi nominal, penurunannya juga dalam besaran angka yang tidak jauh berbeda yakni 13,7%,” ujar Gunawan, Selasa (9/1/2024).
Tetapi fokusnya, kata Gunawan, harus kepada kinerja ekspor dalam satuan berat (Ton), karena lebih mencerminkan bagaimana sisi demand terhadap produk Sumut di negara lain khususnya China. Dan jika membandingkan kinerja ekspor ke China pada November 2023 yang sebanyak 145.639 Ton, mengalami penurunan 36% dibandingkan dengan November 2022 yang sebanyak 227.883 Ton.
“Statistik ekonomi China pada Noveber dan Desember terjebak dalam perlambatan ekonomi yang salah satunya terlihat dari melemahnya laju kenaikan harga. China mengalami deflasi sebesar 0,2% di Oktober dan 0,5% pada November 2023. Ditambah lagi sektor manufaktur yang tercermin dari indeks PMI China juga tengah mengalami kontraksi karena indeksnya berada di angka 49 di Desember 2023,” ungkapnya.
Namun yang lebih parah, lanjutnya, adalah porsi ekspor Sumut ke China justru mengalami kenaikan di tahun 2023 dibandingkan dengan tahun 2022. Pada periode Januari hingga November 2022 China menguasai pangsa ekspor Sumut sebanyak 17,54%. Namun untuk periode yang sama tahun 2023 pangsa ekspor Sumut ke China justru mengalami kenaikan menjadi 18,15% menurut rilis BPS.
“Artinya apa? Di saat ekspor Sumut ke China anjlok, tetapi justru pangsa pasar ekspor ke Chinanya meningkat, maka ekspor Sumut pada dasarnya tertekan karena melemahnya permintaan global. Dan sayangnya perlambatan ekonomi di negara tujuan ekspor Sumut berpeluang berlanjut di tahun depan. Belum lagi mempertimbangkan bagaimana implementasi EUDR (UU anti deforestasi Eropa) yang bisa menekan kinerja ekspor Sumut lebih jauh,” katanya.
Menurut Gunawan, data tersebut menunjukan dengan jelas bahwa sekalipun ekonomi Sumut diproyeksikan tumbuh 5.1% di tahun 2023, tetapi justru fundamental ekonomi Sumut yang tercermin dari kinerja ekspor sangat rapuh. Ekspor yang melambat dan jika berlanjut kedepan, maka sudah semestinya pemerintah memikirkan bagaimana merumuskan kebijakan ekonomi yang sejauh ini dimotori konsumsi rumah tangga.
“Mengingat, penurunan kinerja ekspor Sumut akan menekan produktivitas industri di wilayah Sumut yang pada akhirnya berpeluang menekan belanja masyarakat dan kemampuan konsumsi rumah tangga dalam pembetukan PDRB. Pertumbuhan ekonomi Sumut sejauh ini masih solid, tetapi fundamentalnya tengah digerogoti oleh perlambatan ekonomi global,” pungkasnya. (R)





