MEDAN, Index Sumut – Mengawali pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat ke level 7.366, mengikuti tren positif mayoritas bursa Asia yang bergerak variatif dengan kecenderungan menguat. Namun, di sisi lain, nilai tukar Rupiah justru menunjukkan pelemahan tipis dan diperdagangkan di kisaran Rp16.630 per dolar AS.

Minimnya agenda ekonomi besar dalam sepekan mendatang membuat pasar keuangan global dan domestik cenderung akan dipengaruhi oleh sentimen teknikal. Fokus investor akan tertuju pada pidato Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang dijadwalkan besok, serta data rutin AS pada akhir pekan.

Gunawan Benjamin, Pengamat Pasar Keuangan Sumut, mengatakan bahwa situasi pasar saat ini sangat sensitif terhadap isu eksternal, terutama dinamika kebijakan tarif AS dan arah kebijakan suku bunga global.

“Dalam kondisi minim sentimen, pernyataan Gubernur The Fed akan menjadi sorotan. Jika nada pidatonya dovish dan membuka peluang pemangkasan suku bunga, itu bisa mendorong pasar ke arah yang lebih positif,” ujar Gunawan, Senin (21/7).

Selain itu, menurutnya, masa tenggang dalam negosiasi tarif AS dengan sejumlah negara juga masih menjadi faktor yang harus diwaspadai oleh investor. Belum semua negara berhasil mencapai kesepakatan tarif dengan AS, yang membuka ruang bagi kemungkinan kejutan kebijakan yang berdampak langsung ke pasar.

Meski IHSG dibuka menguat, Gunawan mengingatkan bahwa ruang penguatan relatif terbatas.

“IHSG hari ini diproyeksikan bergerak dalam rentang 7.320 hingga 7.400. Pergerakannya akan lebih banyak mengikuti arah teknikal serta bursa Asia,” tambahnya.

Sementara itu, pelemahan Rupiah didorong oleh stabilnya imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury 10 Tahun) yang bertahan di kisaran 4,2%. Selain itu, indeks dolar AS (DXY) juga stabil di level 98,45, yang turut menahan ruang penguatan mata uang emerging markets, termasuk Rupiah.

Untuk komoditas, harga emas dunia kembali menunjukkan penguatan dan diperdagangkan di level US$3.355 per troy ons, atau sekitar Rp1,8 juta per gram. Kabar mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Fed dalam waktu dekat menjadi pendorong utama naiknya harga logam mulia tersebut.

Gunawan menilai, dalam kondisi seperti ini, pasar akan sangat reaktif terhadap setiap sinyal dari otoritas moneter global, sehingga pelaku pasar perlu mencermati perkembangan harian dengan saksama. (R)

Share: