Medan, Index Sumut – Pasar keuangan Indonesia kembali mencatatkan kinerja positif di awal perdagangan hari ini, Rabu (23/7). Nilai tukar Rupiah menguat ke level Rp16.275 per dolar AS, seiring dengan penguatan IHSG yang dibuka naik ke posisi 7.378.
Sementara itu, harga emas dunia melonjak tajam, didorong spekulasi pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed dalam waktu dekat.
Penguatan Rupiah terutama dipicu oleh pelemahan dolar AS setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury 10 tahun) turun ke level 4,35%. Pasar tengah mencermati arah kebijakan The Fed, di tengah tekanan politik yang berkembang terhadap Gubernur Bank Sentral AS.
Gunawan Benjamin, Pengamat Pasar Keuangan Sumut, menilai bahwa penurunan yield obligasi AS telah memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, untuk menguat.
“Pasar mulai mengantisipasi kemungkinan sikap dovish dari The Fed. Tekanan terhadap Gubernur The Fed juga menciptakan ketidakpastian tersendiri, dan ini berdampak pada pelemahan dolar AS,” jelas Gunawan, Rabu (23/7).
Sementara dari sisi eksternal, kesepakatan dagang baru antara Jepang dan Amerika Serikat turut memberi warna bagi pergerakan pasar global. AS dan Jepang sepakat menurunkan tarif impor otomotif Jepang menjadi 15%. Sebagai bagian dari kesepakatan, Jepang juga akan berinvestasi sebesar US$550 miliar di AS, serta membuka akses pasar untuk sejumlah produk pertanian dari Amerika.
Kabar positif tersebut langsung disambut pasar saham Asia, dengan indeks Nikkei Jepang melonjak lebih dari 1.100 poin di sesi pagi. Efek positif ini turut mendorong IHSG bergerak menguat, meski di tengah minimnya agenda ekonomi penting dalam negeri.
“IHSG ikut terbawa arus sentimen positif dari Asia, terutama dari kesepakatan dagang AS-Jepang. Tapi pasar tetap akan waspada terhadap dinamika kelanjutan negosiasi tarif AS dengan mitra dagang lainnya,” tambah Gunawan.
Dalam beberapa hari ke depan, pasar diperkirakan akan bergerak mengikuti perkembangan hasil negosiasi tarif AS secara global, yang menurut Gunawan dapat membentuk ulang peta perdagangan internasional.
Sementara itu, harga emas dunia mencatatkan lonjakan signifikan ke level US$3.421 per troy ons atau sekitar Rp1,8 juta per gram. Kenaikan tajam ini terjadi akibat meningkatnya ekspektasi pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan untuk merespons tekanan ekonomi dan stabilitas politik internal.
“Lonjakan harga emas merupakan respons atas ketidakpastian kebijakan moneter AS. Investor mulai kembali memburu aset aman seperti emas sebagai langkah antisipatif,” ujar Gunawan.
Dengan arah pasar yang ditentukan lebih banyak oleh sentimen global ketimbang faktor fundamental domestik, Gunawan menyarankan agar pelaku pasar tetap memperhatikan perkembangan geopolitik dan arah kebijakan bank sentral dunia. (R)





