MEDAN, Index Sumut – Pergerakan pasar keuangan global menunjukkan sinyal positif pada perdagangan Rabu (1/4), seiring meningkatnya harapan de-eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Mayoritas bursa saham di kawasan Asia dibuka menguat di zona hijau, didorong oleh optimisme pelaku pasar terhadap meredanya ketegangan geopolitik.

Sentimen positif ini mencuat setelah Presiden Amerika Serikat menyampaikan kemungkinan negaranya akan menarik diri dari konflik dalam “dua atau tiga minggu”. Pernyataan tersebut langsung direspons positif oleh pasar, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dibuka menguat ke level 7.149.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah dunia mulai menunjukkan penurunan. Minyak jenis Brent turun ke kisaran US$105 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) masih bertahan di atas US$100 per barel atau sekitar US$102 per barel. Koreksi harga minyak ini menjadi indikasi awal meredanya kekhawatiran pasar terhadap konflik berkepanjangan.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terpantau relatif stabil di kisaran Rp16.990 per dolar AS. Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif di sekitar level psikologis Rp17.000.

Namun menariknya, di tengah meredanya tensi geopolitik, harga emas dunia justru melesat tajam. Logam mulia tersebut mendekati level US$4.700 per ons troy, tepatnya berada di posisi US$4.693 per ons, atau setara sekitar Rp2,57 juta per gram.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai lonjakan harga emas mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar dalam merespons dinamika global yang masih belum sepenuhnya stabil.

“Emas tetap menjadi instrumen lindung nilai utama di tengah ketidakpastian. Meskipun ada sinyal de-eskalasi, pasar masih melihat risiko yang belum benar-benar mereda,” ujarnya.

Ia menambahkan, selama konflik belum sepenuhnya berakhir dan aktivitas militer masih berlangsung, pergerakan pasar keuangan global cenderung tetap volatil.

“Sentimen ekonomi saat ini belum cukup kuat untuk menggantikan dominasi faktor geopolitik sebagai penggerak utama pasar. Kondisi ini membuat pasar masih rapuh dan sangat sensitif terhadap perkembangan situasi di Timur Tengah,” jelasnya.

Gunawan juga menilai, jika de-eskalasi benar-benar terealisasi secara nyata, maka tidak hanya pasar saham yang berpotensi menguat, tetapi stabilitas harga komoditas dan nilai tukar juga akan semakin terjaga.

Pelaku pasar pun diimbau untuk terus mencermati perkembangan geopolitik secara ketat, mengingat konflik global masih menjadi faktor dominan yang menentukan arah pergerakan pasar saat ini. (R)

Share: