JAKARTA, Index Sumut – Pasar keuangan global kembali bergejolak. Memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah setelah Iran menuding Amerika Serikat melanggar kesepakatan gencatan senjata memicu kekhawatiran baru di kalangan investor. Dampaknya, sejumlah instrumen keuangan langsung tertekan, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai kondisi ini mendorong pelaku pasar mengambil sikap defensif di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

“Memanasnya kembali konflik di Timur Tengah menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan. Investor cenderung menghindari risiko, sehingga pasar saham dan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, mengalami tekanan,” ujarnya, Kamis (9/4).

Lonjakan tensi geopolitik juga berdampak pada harga energi global. Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) dan Brent Crude tercatat bergerak stabil dengan kecenderungan naik, diperdagangkan di kisaran 96,6 dolar AS per barel. Kenaikan ini memperkuat kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.

Sejalan dengan itu, mayoritas bursa saham Asia terpantau melemah. IHSG pada sesi pembukaan turun ke level 7.238, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gagalnya kesepakatan damai antara AS dan Iran.

Tak hanya faktor geopolitik, tekanan juga datang dari kebijakan moneter global. Rilis risalah rapat Federal Open Market Committee memperlihatkan peluang kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS masih terbuka.

“FOMC minutes membuka peluang kenaikan suku bunga. Ditambah kenaikan harga minyak yang bisa mendorong inflasi, peluang kebijakan dovish semakin kecil,” jelas Gunawan.

Kondisi ini memperbesar kemungkinan pengetatan lanjutan oleh Federal Reserve, yang berpotensi menekan aliran modal ke pasar negara berkembang.

Di pasar valuta asing, rupiah turut tertekan dan diperdagangkan melemah di kisaran Rp17.020 per dolar AS. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko global.

Sementara itu, harga emas dunia relatif stabil di level 4.713 dolar AS per ons troy. Jika dikonversikan, harga emas berada di kisaran Rp2,59 juta per gram.

“Emas masih menjadi aset lindung nilai yang diminati di tengah ketidakpastian. Namun secara keseluruhan, pasar keuangan berpotensi bergerak volatil selama risiko geopolitik belum mereda,” tutup Gunawan. (R)

Share: