MEDAN, Index Sumut – Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan di bawah naungan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Republik Indonesia, menyelenggarakan kegiatan Milenial Agriculture Forum (MAF) Volume 7 Edisi 18.

Kegiatan yang dilaksanakan secara online bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026, dengan mengusung tema “Optimalisasi Sumber Daya Pertanian dalam Mewujudkan Swasembada Pangan dan Energi Terbarukan”.

Kegiatan berlangsung mulai pukul 08.00 WIB dan diikuti oleh ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, penyuluh pertanian, dan pelaku usaha tani se-Indonesia. Sebagai bentuk apresiasi, seluruh peserta berhak mendapatkan sertifikat elektronik secara cuma-cuma dan berkesempatan memenangkan hadiah undian.

Forum yang dipandu oleh Sri Rahmadayani Setiawati dan Farhan Ammar ini menghadirkan dua pembicara ahli, yaitu Taufiq Bin Nur dari Universitas Sumatera Utara dan Sukmi Alkausar selaku Direktur Aliansi Organis Indonesia. Diskusi dipimpin oleh Moderator Abrar Ashari Siregar selaku Penyuluh Pertanian Provinsi Sumatera Utara.

Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, dalam sambutan tertulisnya menegaskan pertanian adalah tulang punggung kemakmuran dan kedaulatan bangsa. Sumber daya alam yang Tuhan karuniakan di tanah air kita harus dikelola dengan akal sehat dan teknologi tepat guna.

“Generasi muda pertanian adalah penggerak utama perubahan. Gabungkan ilmu pengetahuan dengan semangat kewirausahaan, ubah lahan menjadi sumber penghasil pangan dan penghasil energi. Indonesia wajib berdiri tegak di atas kekuatan pangan dan energinya sendiri,” kata Mentan Amran.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Idha Widi Arsanti, dalam pemaparan utamanya menyatakan bahwa dunia saat ini menghadapi krisis pangan yang serius. Berdasarkan data FAO tahun 2023, terdapat 58 negara yang mengalami kelaparan parah dan 725 juta penduduk dunia kekurangan gizi, dengan 55% di antaranya berada di kawasan Asia. Di Indonesia sendiri, 7-16% penduduk berisiko mengalami kelaparan dan 21,5% balita mengalami pertumbuhan terhambat.

“Kondisi ini menuntut kita untuk terus berinovasi mengoptimalkan potensi lahan dan sumber daya hayati. Pengembangan energi terbarukan dari sektor pertanian seperti biogas dari kotoran ternak, minyak nabati dari kelapa sawit, serta etanol dan biomassa menjadi solusi ganda yang menjamin ketahanan pangan sekaligus kemandirian energi,” katanya.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin, menambahkan bahwa tantangan perubahan iklim dan ketidakseimbangan pasokan energi mengharuskan kita melakukan transformasi besar dalam pengelolaan pertanian. Strategi utama yang kami dorong meliputi peningkatan hasil dan pembaruan sistem usahatani, penerapan pertanian cerdas berbasis teknologi informasi, serta penguatan kualitas sumber daya manusia.

“Melalui wadah seperti Milenial Agriculture Forum, kami ingin menanamkan kesadaran bahwa pemuda adalah tulang punggung pembangunan. Keberhasilan mengubah tantangan menjadi peluang bergantung pada kemampuan kita membentuk generasi yang cerdas, terampil, dan berkarakter pengabdi,” kata Amin.

Direktur Polbangtan Medan, Nurliana Harahap, dalam sambutannya menyampaikan komitmen lembaganya bahwa Sumatera Utara memiliki potensi agronomis yang sangat besar.

“Polbangtan Medan hadir sebagai jembatan antara teori dan praktik. Melalui Milenial Agriculture Forum, kami ingin menanamkan keyakinan kepada seluruh peserta bahwa pertanian adalah peluang usaha yang menjanjikan,” kata Nurliana.

“Dengan pengelolaan yang tepat, sektor pertanian tidak hanya akan menjamin kecukupan pangan, tetapi juga dapat berkontribusi besar dalam penyediaan energi terbarukan bagi masyarakat,” tambahnya.

Kajian Ilmiah: Potensi BIomassa Pertanian Sebagai Sumber Energi Baharu

Dalam pemaparannya, Taufiq Bin Nur memaparkan data ketahanan energi nasional. Berdasarkan data Statistik Energi Kementerian ESDM, pada periode 2019–2024, pasokan energi primer Indonesia masih sangat bergantung pada minyak bumi, gas alam, dan batu bara. Sementara itu, kontribusi Energi Baharu dan Terbarukan (EBT) baru mencapai 308,2 Juta Barel Minyak Setara pada tahun 2024.

Kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional juga masih didominasi oleh pembangkit tenaga uap berbahan bakar batu bara. Meskipun demikian, perkembangan pembangkit berbasis EBT menunjukkan tren peningkatan yang menggembirakan. Pada tahun 2022, kapasitas terpasang pembangkit EBT mencapai 14 Gigawatt, yang didominasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air dan Panas Bumi. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2021–2030, Pemerintah menargetkan komposisi EBT mencapai 45% dari bauran energi nasional.

Sebagai solusi strategis, Taufiq mengusung konversi limbah biomassa pertanian melalui teknologi Pemecahan Panas (Pirolisis) dan Pembakaran Tidak Sempurna (Gasifikasi). Khususnya di Provinsi Sumatera Utara, limbah kelapa sawit menjadi potensi yang sangat besar. Hasil uji laboratorium menunjukkan, tandan buah kosong dan serbuk gergaji kelapa sawit memiliki nilai kalor bersih masing-masing 17.819,66 kJ/kg dan 17.200,42 kJ/kg, sehingga layak diolah menjadi bahan bakar padat maupun cair.

Pemanfaatan Limbah Untuk Kesejahteraan Petani

Sementara itu, Sukmi Alkausar menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya pertanian tidak hanya bertujuan untuk ketahanan energi, melainkan juga peningkatan pendapatan pelaku usaha. Dalam kajiannya yang berjudul

“Pemanfaatan Limbah Hasil Pertanian untuk Nilai Tambah Ekonomi”, dijelaskan bahwa selama ini limbah pasca panen hanya dianggap sebagai beban lingkungan. Padahal, melalui rekayasa proses sederhana, bahan sisa tersebut dapat diubah menjadi pupuk organik, pakan ternak, hingga bahan baku industri.

“Di Sumatera Utara, perkebunan dan pertanian pangan menghasilkan ratusan ribu ton limbah setiap tahunnya. Jika diolah dengan sistem yang terstruktur, hal ini akan menciptakan mata rantai ekonomi baru. Petani tidak hanya menjual hasil utama, tetapi juga memanfaatkan sisanya menjadi komoditas bernilai jual,” jelas Sukmi.

Penerapan sistem terpadu pertanian-energi diharapkan dapat menekan biaya operasional usaha tani. Dengan menyediakan kebutuhan energi sendiri, ketergantungan pada bahan bakar minyak yang harganya berfluktuasi dapat dikurangi.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana penyebaran informasi, pembentukan jejaring, dan pendorong semangat kewirausahaan di kalangan pemuda. Melalui peningkatan wawasan dan keterampilan, diharapkan akan lahir gagasan-gagasan inovatif yang dapat diwujudkan di tingkat lapangan guna mendukung program pembangunan pertanian nasional. (R)

Share: