MEDAN, Index Sumut – Sentimen positif dari Timur Tengah mulai memengaruhi pergerakan pasar keuangan global dan domestik. Harapan kembali dibukanya jalur perdagangan strategis Selat Hormuz mendorong penguatan harga emas dunia, meski di sisi lain nilai tukar rupiah justru masih berada dalam tekanan.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, pernyataan Presiden Amerika Serikat yang menyebut pembicaraan terkait Selat Hormuz berlangsung konstruktif menjadi angin segar bagi pasar global.

“Pasar menyambut positif kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz. Bursa saham Asia mayoritas bergerak menguat dan IHSG juga ikut terapresiasi pada awal perdagangan,” ujar Gunawan, Senin (25/5).

Pada sesi pembukaan perdagangan, IHSG tercatat menguat ke level 6.187. Optimisme pasar juga terlihat dari turunnya harga minyak mentah dunia. Minyak jenis WTI diperdagangkan di kisaran 92 dolar AS per barel, sementara Brent turun ke level 99 dolar AS per barel.

Menurut Gunawan, penurunan harga minyak menjadi kabar baik bagi pasar keuangan domestik karena dapat mengurangi tekanan inflasi dan beban impor energi Indonesia.

“Turunnya harga minyak sebenarnya positif untuk perekonomian nasional. Tetapi rupiah justru masih melemah dan pada perdagangan pagi ini berada di kisaran Rp17.710 per dolar AS,” katanya.

Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi sentimen global, khususnya setelah Senat Amerika Serikat menyetujui Kevin Warsh sebagai Gubernur Bank Sentral AS menggantikan Jerome Powell.

Pasar, lanjutnya, menilai kepemimpinan baru The Fed cenderung lebih dovish atau mendukung pelonggaran kebijakan moneter. Namun kondisi ekonomi AS saat ini masih membuat ruang penurunan suku bunga menjadi terbatas.

“Data ekonomi AS dan tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi sebelumnya membuat The Fed kemungkinan tetap mempertahankan suku bunga acuannya dalam waktu dekat,” jelasnya.

Menariknya, pergantian kepemimpinan di bank sentral AS justru menekan USD Index ke level 99,02. Pelemahan indeks dolar itu mencerminkan ekspektasi pasar bahwa arah kebijakan The Fed ke depan akan lebih lunak.

Meski demikian, kondisi tersebut belum mampu mengangkat performa rupiah.

Di sisi lain, harga emas dunia justru melesat tajam. Emas diperdagangkan di level 4.567 dolar AS per ons troy atau setara sekitar Rp2,6 juta per gram.

Gunawan menilai, kombinasi sentimen geopolitik, ekspektasi penurunan suku bunga, serta potensi melandainya inflasi global menjadi pendorong utama penguatan emas.

“Pasar melihat peluang inflasi mereda apabila Selat Hormuz benar-benar kembali dibuka dan distribusi energi global kembali normal. Kondisi itu memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga dan akhirnya mendorong harga emas naik signifikan,” pungkasnya. (R)

Share: