MEDAN, Index Sumut – Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan menggelar Focus Group Discussion (FGD) penyusunan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) di Aula Polbangtan Medan, Selasa (25/5).

Bertemakan “Pengembangan Kurikulum Berbasis OBE untuk Menghasilkan SDM Perkebunan yang Profesional dan Berdaya Saing Global”, kegiatan ini menjadi langkah strategis menyelaraskan pendidikan vokasi pertanian dengan kebutuhan dunia usaha, dunia industri, serta tuntutan transformasi sektor pertanian nasional yang kian mengadopsi teknologi modern.

Acara ini dihadiri para pemangku kepentingan, akademisi, praktisi industri, serta pengambil kebijakan pendidikan pertanian. Dalam rangkaian diskusi selama kegiatan, disepakati sejumlah poin utama penataan kurikulum, mulai dari penyusunan materi yang mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), penerapan metode pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning), hingga penguatan kompetensi mahasiswa di bidang teknologi digital, pertanian presisi, dan kemampuan lunak (soft skill) yang menjadi syarat utama di dunia kerja masa kini.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam sambutannya yang dibacakan, menegaskan bahwa transformasi sumber daya manusia adalah kunci kemajuan pertanian Indonesia.

“Pertanian masa depan tidak lagi mengandalkan tenaga fisik semata, melainkan keahlian, penguasaan teknologi, dan pola pikir berkelanjutan. Kurikulum pendidikan pertanian harus berani berubah, berani menyesuaikan diri, agar lulusan kita bukan hanya siap kerja, tapi juga mampu menjadi penggerak kemajuan di lapangan dan menjawab tantangan persaingan global,” ujar Mentan Amran.

Lebih lanjut ia menambahkan, keberhasilan ketahanan pangan nasional sangat bergantung pada kualitas SDM pertanian. “Kita butuh tenaga kerja yang paham data, menguasai teknologi pertanian presisi, serta memegang teguh prinsip keberlanjutan. Polbangtan sebagai garda terdepan pendidikan vokasi harus menjadi pelopor penyiapan SDM tersebut,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengapresiasi langkah Polbangtan Medan dalam merancang kurikulum berbasis OBE. Menurutnya, penyelarasan antara materi ajar dan kebutuhan industri harus dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan semua pihak.

“Pendidikan vokasi pertanian wajib berorientasi pada hasil, yaitu kompetensi nyata yang dibutuhkan industri. Kami berharap setiap mata kuliah, setiap praktik, hingga program magang yang disusun benar-benar terukur dampaknya. Kolaborasi model quadruple helix antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat harus dijalin erat agar tidak ada lagi kesenjangan antara apa yang diajarkan di kelas dan apa yang dibutuhkan di lapangan,” ungkap Idha Widi Arsanti.

Dalam paparannya, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Muhammad Amin, menjelaskan arah kebijakan pendidikan pertanian nasional saat ini. Kurikulum tidak hanya harus mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk karakter, integritas, serta kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif—atau yang dikenal dengan konsep 6C (Critical Thinking, Creativity, Collaboration, Communication, Character, Citizenship).

“Lulusan pertanian masa depan dituntut menguasai literasi data, sistem informasi geografis, operasi pesawat tanpa awak, hingga penerapan kecerdasan buatan di kebun. Selain itu, pemahaman terhadap standar sertifikasi seperti ISPO dan RSPO, serta prinsip tata kelola lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan atau ESG, menjadi syarat mutlak. Jangan sampai kita mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, namun lemah dalam karakter dan ketahanan mental saat bekerja,” jelas Muhammad Amin.

Direktur Polbangtan Medan, Nurliana Harahap, dalam keterangannya menyampaikan bahwa FGD ini merupakan wujud nyata komitmen lembaganya untuk terus berinovasi. Berdasarkan masukan dari para pemangku kepentingan, kurikulum baru akan menekankan penguasaan beragam komoditas, penguatan kemampuan manajerial dan komunikasi, serta peningkatan keterampilan teknis lapangan yang selama ini menjadi catatan pengembangan bagi alumni.

“Kami telah mendengar masukan berharga dari mitra industri, mulai dari perlunya penguasaan lintas komoditas, kemampuan mengambil keputusan mandiri, hingga pentingnya materi kewirausahaan dan pendidikan berkelanjutan. Kurikulum kita akan disesuaikan, termasuk nomenklatur program studi agar lebih relevan dan daya serap lulusan makin tinggi. Tujuan akhirnya satu: mencetak SDM pertanian yang profesional, berintegritas, dan berdaya saing tinggi,” ucap Nurliana Harahap.

Dalam hasil rumusan FGD disepakati pula sejumlah hal penting, di antaranya perancangan program magang kolaboratif dengan industri, penyesuaian materi ajar dengan SKKNI, penanaman budaya kerja dan kode etik profesi, serta penguatan peran penyuluh pertanian yang kini dituntut menguasai berbagai ilmu tanaman hingga teknologi canggih.

Kegiatan ini diharapkan menjadi acuan bagi pengembangan pendidikan pertanian di wilayah Sumatera Utara dan sekitarnya, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara agraris yang memiliki sumber daya manusia unggul, modern, dan berkelanjutan. (R)

Share: