JAKARTA, Index Sumut – Pergerakan pasar keuangan domestik kembali dibayangi tekanan pada perdagangan hari ini. Nilai tukar rupiah melanjutkan tren pelemahan, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun sebelum akhirnya berbalik ke zona hijau.

IHSG dibuka melemah ke level 6.201 mengikuti mayoritas bursa saham Asia yang bergerak negatif pada sesi perdagangan pagi. Namun, tekanan tersebut perlahan mereda dan IHSG berhasil berbalik arah ke jalur penguatan.

Pelaku pasar disebut masih menanti perkembangan negosiasi damai antara Iran dan Amerika Serikat di tengah minimnya sentimen data ekonomi global yang dirilis pekan ini.

Sementara itu, nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh level Rp17.730 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan rupiah terjadi meskipun indeks dolar AS (USD Index) sebenarnya masih bergerak lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai tekanan terhadap rupiah saat ini tidak sepenuhnya dipicu sentimen eksternal.

“Pasar mulai lebih memperhitungkan kondisi ekonomi nasional dibandingkan hanya melihat faktor global. Jadi pelemahan rupiah sekarang tidak murni karena penguatan dolar AS,” ujar Gunawan, Selasa (26/5).

Menurutnya, keluarnya sejumlah emiten dari daftar pemeringkatan FTSE Russell turut memberikan tekanan tambahan terhadap pasar keuangan domestik, baik pada IHSG maupun nilai tukar rupiah.

Ia menjelaskan, investor saat ini juga mulai mencermati kondisi pasar obligasi sebagai indikator utama arah pergerakan pasar keuangan nasional.

“Tekanan pada neraca pembayaran yang diikuti aksi jual di pasar obligasi bisa menjadi sinyal tekanan lanjutan bagi rupiah. Ini yang perlu diwaspadai,” katanya.

Gunawan menambahkan, kondisi tersebut berpotensi mendorong Bank Indonesia mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat melalui kenaikan suku bunga acuan.

“Tekanan terhadap rupiah dapat memaksa Bank Indonesia mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga acuannya. Ke depan, kebijakan BI masih cenderung bernada hawkish,” jelasnya.

Menurut dia, arah kebijakan fiskal pemerintah juga akan sangat memengaruhi langkah kebijakan moneter Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar dan nilai tukar.

Di sisi lain, harga emas dunia terpantau relatif stabil di kisaran 4.538 dolar AS per ons troy. Sementara harga emas domestik berada di sekitar Rp2,6 juta per gram, tidak jauh berbeda dibandingkan perdagangan sebelumnya. (R)

Share: