SORONG, Index Sumut – Pemerintah terus mempercepat pemerataan kualitas pendidikan hingga ke wilayah timur Indonesia melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan. Komitmen tersebut ditunjukkan lewat kunjungan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yang meresmikan hasil revitalisasi sekolah tahun anggaran 2025 sekaligus menyerahkan bantuan modal 2026 bagi sejumlah sekolah di Kota dan Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.
Peresmian dipusatkan di SMK Negeri 1 Kota Sorong pada Selasa (26/5/2026). Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pembenahan infrastruktur pendidikan menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan berkualitas.
“Kami berkomitmen revitalisasi ini terus kami laksanakan sampai seluruh pelosok Tanah Air,” ujar Abdul Mu’ti.
Pemerintah menggelontorkan anggaran besar untuk mendukung program tersebut. Pada realisasi anggaran 2025, Kota Sorong memperoleh Rp4,9 miliar untuk 12 sekolah, sementara Kabupaten Sorong menerima Rp22 miliar bagi 15 sekolah.
Sedangkan untuk alokasi tahun 2026, pemerintah menyiapkan Rp3,6 miliar untuk lima sekolah di Kota Sorong dan Rp16,5 miliar yang akan didistribusikan ke 34 sekolah di Kabupaten Sorong.
Program revitalisasi ini diprioritaskan bagi sekolah-sekolah yang berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), terdampak bencana, maupun mengalami kerusakan fisik berat. Secara nasional, pemerintah menargetkan revitalisasi menjangkau 71.744 satuan pendidikan sepanjang 2026.
Tak hanya berdampak pada sektor pendidikan, program tersebut juga ikut menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. Melalui skema swakelola yang melibatkan tenaga kerja lokal dan mitra daerah, revitalisasi sekolah disebut telah menyerap sekitar 250 ribu tenaga kerja di seluruh Indonesia pada tahun lalu.
Manfaat program ini mulai dirasakan langsung oleh sejumlah sekolah penerima bantuan.
Di SMK Negeri 1 Kota Sorong, revitalisasi menghadirkan gedung perpustakaan baru serta tambahan fasilitas toilet untuk menunjang kenyamanan sekitar 1.600 siswa.
“Nanti perpustakaan yang kami dapatkan ini akan dikembangkan menjadi perpustakaan digital,” ungkap Kepala Sekolah, A. H. P. Ompusunggu.
Sementara itu, SMAN 5 Kabupaten Sorong menerima bantuan Rp1,2 miliar untuk memperbaiki ruang administrasi yang bocor, ruang guru, laboratorium sains yang rusak, hingga pembangunan satu ruang kelas baru.
“Di tahun ajaran 2026/ 2027 nanti, kami bisa menambah satu rombongan belajar (rombel) baru,” tutur Kepala Sekolah, Ficce Loppies.
Adapun SDN 21 Kabupaten Sorong menjadi salah satu penerima bantuan tahun 2026 sebesar Rp1,2 miliar untuk rehabilitasi tiga ruang kelas rusak berat, ruang administrasi, dan ruang UKS.
Kepala Sekolah SDN 21, Alfina Lewerissa, menyebut bantuan tersebut menjadi suntikan semangat baru bagi guru dan murid setelah sekian lama menjalani proses belajar mengajar di ruang kelas dengan plafon rusak dan lantai pecah.
Pemerintah optimistis penguatan sarana dan prasarana pendidikan di Tanah Papua dapat memperkecil kesenjangan kualitas pendidikan antara wilayah barat dan timur Indonesia. Selama ini, banyak sekolah di daerah pelosok dan kepulauan terluar masih menghadapi keterbatasan fasilitas dasar, mulai dari bangunan rusak, minim laboratorium, hingga sanitasi yang tidak memadai.
Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan besar dalam penerapan sistem pendidikan modern dan berdampak langsung terhadap kualitas pembelajaran siswa.
Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, pemerintah berharap akses terhadap fasilitas sekolah yang layak semakin merata sehingga generasi muda Papua memiliki kesempatan belajar yang setara dan mampu bersaing menyongsong Indonesia Emas. (inv)





