JAKARTA, Index Sumut – Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan perdana usai libur Idul Adha 2026. Mata uang Garuda dibuka di level Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,14 persen dibanding perdagangan sebelumnya.
Di tengah tekanan terhadap rupiah, indeks dolar AS (DXY) justru bergerak relatif stabil. Hingga pukul 09.00 WIB, DXY tercatat berada di level 98,974 setelah sebelumnya ditutup melemah 0,19 persen.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai pelemahan rupiah saat ini sudah memasuki fase overshooting, yakni kondisi ketika depresiasi nilai tukar bergerak jauh lebih dalam dibandingkan fundamental ekonomi jangka panjang Indonesia.
Menurut Fakhrul, kondisi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan lemahnya fundamental ekonomi nasional, melainkan lebih dipengaruhi persepsi pasar terhadap tekanan global, arah kebijakan domestik, dan ketidakpastian proses penyesuaian ekonomi.
“Pasar keuangan tidak hanya membaca data hari ini. Pasar membaca arah kebijakan, kredibilitas respon, dan kemampuan negara menjaga stabilitas di tengah perubahan global yang sangat cepat,” ujarnya dilansir dari CNBC Indonesia, Jumat (29/5/2026).
Ia menilai rupiah kini menjadi titik utama penyesuaian dari berbagai tekanan ekonomi yang seharusnya tersebar ke sejumlah sektor lain.
Dalam kondisi normal, kata Fakhrul, kenaikan harga energi global biasanya terbagi ke berbagai kanal seperti inflasi, fiskal, harga domestik, dan nilai tukar. Namun saat pemerintah berupaya menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas sosial dengan menahan berbagai penyesuaian domestik, tekanan akhirnya lebih banyak tertumpu pada kurs rupiah.
“Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs,” jelasnya.
Menurutnya, hal inilah yang membuat pelemahan rupiah terlihat jauh lebih besar dibanding indikator ekonomi lainnya.
Fakhrul juga mengingatkan bahwa tekanan terhadap sektor riil mulai menjadi persoalan serius bagi dunia usaha. Pasalnya, pelaku industri kini menghadapi tekanan ganda berupa kenaikan biaya impor akibat pelemahan rupiah dan meningkatnya biaya pembiayaan karena suku bunga tinggi.
Kondisi tersebut dinilai paling berat dirasakan sektor manufaktur, properti, konstruksi, ritel, hingga perusahaan dengan tingkat utang tinggi.
“Kalau kondisi seperti ini terlalu lama, maka perusahaan tidak hanya menghadapi tekanan margin, tetapi juga mulai menahan ekspansi, mengurangi investasi, dan lebih defensif terhadap perekrutan tenaga kerja,” ujarnya.
Karena itu, Fakhrul menyarankan pelaku usaha untuk lebih fokus menjaga ketahanan operasional dibanding melakukan ekspansi agresif dalam jangka pendek.
Ia menekankan pentingnya menjaga likuiditas, mengelola risiko nilai tukar, meningkatkan efisiensi, serta menghindari penggunaan leverage berlebihan di tengah tingginya volatilitas pasar.
Meski demikian, Fakhrul melihat fase overshooting juga dapat membuka peluang bagi perusahaan dengan fundamental dan neraca keuangan yang kuat.
“Setiap fase overshooting biasanya juga menciptakan peluang akumulasi aset bagi pelaku usaha yang siap,” ujarnya. (cnbci)





