MEDAN, Index Sumut – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan dan semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) menjelang rilis data inflasi nasional. Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global serta kehati-hatian pelaku pasar terhadap sejumlah agenda ekonomi penting pada bulan Juni.

Pada perdagangan pagi, rupiah terpantau melemah ke level Rp17.890 per dolar AS. Pelemahan ini berlangsung ketika harga minyak mentah dunia kembali menguat menyusul perkembangan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai belum menunjukkan kemajuan signifikan.

Sementara itu, pergerakan bursa saham Asia cenderung mixed dengan kecenderungan melemah. Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka menguat ke level 6.210, meski masih berpotensi menghadapi tekanan seiring memburuknya sentimen regional dan pelemahan mata uang rupiah.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, perhatian pasar saat ini tertuju pada rencana pemerintah menerbitkan surat utang dalam waktu dekat. Menurutnya, besarnya minat investor terhadap instrumen tersebut akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah rupiah dalam jangka pendek.

“Pasar sedang menunggu realisasi penerbitan obligasi pemerintah. Serapan investor terhadap surat utang tersebut akan menjadi salah satu penentu masuknya likuiditas valuta asing ke dalam negeri. Jika serapannya kuat, tentu dapat membantu menopang pergerakan rupiah,” ujar Gunawan, Selasa (2/6).

Ia menambahkan, selain faktor tersebut, pelaku pasar juga menantikan langkah konkret pemerintah dari sisi fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.

Di sisi lain, pasar keuangan domestik sebenarnya mendapat sentimen positif dari sektor manufaktur. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia pada Mei tercatat naik ke level 50, menandakan aktivitas manufaktur kembali berada di zona ekspansi.

“Perbaikan PMI menjadi kabar baik bagi pasar saham karena menunjukkan aktivitas ekonomi domestik yang mulai membaik. Namun sentimen positif tersebut masih harus berhadapan dengan tekanan eksternal dan pelemahan nilai tukar,” kata Gunawan.

Pelaku pasar juga kini menaruh perhatian besar pada rilis data inflasi nasional. Inflasi tahunan pada Mei diperkirakan mendekati level 3 persen. Menurut Gunawan, angka inflasi tersebut akan menjadi indikator penting untuk melihat sejauh mana dampak pelemahan rupiah telah merambat ke sektor riil.

“Transmisi pelemahan rupiah terhadap harga barang sudah mulai terlihat, khususnya pada sejumlah kebutuhan rumah tangga tahan lama yang memiliki ketergantungan terhadap bahan baku maupun produk impor. Karena itu pasar akan sangat berhati-hati menunggu data inflasi,” jelasnya.

Sementara itu, harga emas dunia justru mengalami koreksi dan diperdagangkan di kisaran US$4.482 per ons troy atau sekitar Rp2,59 juta per gram. Tekanan pada harga emas terjadi seiring harapan pasar terhadap kelanjutan proses negosiasi damai antara Iran dan Amerika Serikat.

Gunawan menilai, dalam jangka pendek pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan global, arus modal asing, serta respons pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.

“Level Rp18.000 per dolar AS kini menjadi batas psikologis yang sangat diperhatikan pelaku pasar. Arah kebijakan pemerintah dan respons investor terhadap penerbitan surat utang akan menjadi faktor penentu apakah rupiah mampu bertahan atau justru menembus level tersebut,” pungkasnya. (R)

Share: