MEDAN, Index Sumut – Memanasnya kembali konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran membuat pasar keuangan global bergejolak. Dampaknya langsung terasa di Indonesia, di mana nilai tukar rupiah terpuruk hingga menyentuh level Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS), sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga emas sama-sama mengalami tekanan pada awal pekan ini.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG tercatat melemah ke level 5.486. Tekanan pasar terjadi setelah harapan terciptanya perdamaian melalui gencatan senjata di kawasan Timur Tengah kembali memudar menyusul serangan Iran ke Israel yang memicu aksi balasan dari pihak AS dan sekutunya.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan bahwa pasar saat ini sedang berada dalam kondisi penuh ketidakpastian. Investor cenderung menghindari aset berisiko dan memilih instrumen yang dianggap lebih aman.
“Ketegangan geopolitik yang kembali meningkat membuat pelaku pasar melakukan aksi pengamanan portofolio. Selain itu, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi faktor utama yang menekan rupiah maupun pasar saham domestik,” ujar Gunawan, Senin (8/6).
Menurut Gunawan, fokus pasar tidak hanya tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah, tetapi juga sejumlah agenda ekonomi penting yang akan dirilis pekan ini.
Dari dalam negeri, pelaku pasar menunggu data cadangan devisa Indonesia, indeks kepercayaan konsumen, penjualan kendaraan bermotor, hingga data penjualan ritel. Sementara dari luar negeri, perhatian investor tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat dan China.
“Jika inflasi di AS maupun China menunjukkan kenaikan, maka ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan akan semakin kuat. Kondisi ini dapat memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” jelasnya.
Di pasar valuta asing, rupiah dibuka melemah ke level Rp18.100 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi seiring menguatnya indeks dolar AS (USD Index) yang berada di kisaran 100 serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang bertahan di atas 4,5 persen.
Sementara itu, harga emas dunia justru mengalami koreksi meski konflik geopolitik meningkat. Emas saat ini diperdagangkan di kisaran US$4.322 per troy ons atau setara sekitar Rp2,52 juta per gram.
Gunawan menilai koreksi emas dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga global yang dapat mengurangi daya tarik logam mulia tersebut.
“Biasanya emas menjadi aset lindung nilai ketika terjadi konflik. Namun kali ini pasar lebih fokus pada potensi kebijakan moneter yang lebih ketat akibat risiko inflasi. Itu sebabnya harga emas mengalami tekanan meskipun tensi geopolitik meningkat,” katanya.
Ia memperkirakan volatilitas pasar keuangan masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan hingga muncul kejelasan mengenai perkembangan konflik Timur Tengah dan arah kebijakan bank sentral dunia.
“Selama ketidakpastian masih tinggi, rupiah berpotensi tetap berada di bawah tekanan dan IHSG masih rentan mengalami koreksi lanjutan,” pungkas Gunawan. (R)





