MEDAN, Index Sumut Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia kembali meningkat setelah Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,75 persen. Keputusan tersebut diikuti proyeksi bahwa inflasi Amerika Serikat masih akan bertahan tinggi hingga 2028, sehingga membuka peluang kebijakan moneter yang lebih ketat atau hawkish dalam beberapa tahun ke depan.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, keputusan The Fed langsung memberikan sentimen negatif terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Pasar menangkap sinyal bahwa The Fed belum memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Bahkan masih terbuka kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan pada tahun 2026. Kondisi ini membuat dolar AS semakin kuat dan menekan mata uang negara berkembang,” ujar Gunawan, Kamis (18/6).

Penguatan dolar tercermin dari kenaikan USD Index yang mencapai level 100,24. Sementara itu, rupiah kembali melemah hingga menyentuh level Rp17.850 per dolar AS pada perdagangan pagi.

Menurut Gunawan, pelemahan rupiah tidak hanya dipicu oleh kebijakan The Fed. Bank Sentral Jepang (BoJ) yang baru saja menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1 persen, level tertinggi dalam 31 tahun terakhir, turut memperbesar tekanan di pasar keuangan global.

“Kenaikan suku bunga Jepang mengubah peta transaksi carry trade yang selama ini banyak memanfaatkan yen sebagai sumber pendanaan murah. Dampaknya, aliran modal global menjadi lebih selektif dan rupiah ikut terkena tekanan,” jelasnya.

Di pasar saham, sentimen negatif tersebut juga menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada sesi pembukaan perdagangan, IHSG melemah ke level 6.191 meskipun mayoritas bursa saham Asia bergerak mixed dengan kecenderungan menguat.

Gunawan menilai investor domestik saat ini memilih mengambil posisi hati-hati. Selain menghadapi tekanan nilai tukar, pasar juga tengah menunggu hasil tinjauan indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International) yang diumumkan pada perdagangan Eropa hari ini.

“Pelaku pasar sangat menantikan keputusan MSCI. Yang menjadi perhatian utama adalah apakah Indonesia tetap berada dalam kategori emerging market atau justru mengalami penurunan status menjadi frontier market. Keputusan ini berpotensi memengaruhi arus investasi asing ke pasar modal Indonesia,” katanya.

Sementara itu, harga emas dunia masih bergerak relatif stabil di kisaran 4.318 dolar AS per ons troy. Jika dikonversikan ke rupiah, nilainya berada di sekitar Rp2,49 juta per gram.

Ke depan, Gunawan memperkirakan volatilitas pasar keuangan masih akan tinggi. Investor disarankan mencermati perkembangan kebijakan bank sentral global serta hasil evaluasi MSCI yang dapat menjadi penentu arah pergerakan pasar dalam jangka pendek.

“Untuk sementara, sentimen global masih menjadi faktor dominan yang menggerakkan rupiah maupun IHSG. Pasar akan sangat sensitif terhadap setiap perubahan kebijakan moneter dari negara-negara utama,” pungkasnya. (R)

Share: