Batu Bara, Index Sumut – Puluhan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) mengikuti kunjungan edukatif ke PT Prima Multi Terminal (PMT) di Terminal Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, Selasa (30/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran lapangan untuk memahami penerapan sistem manajemen mutu dan digitalisasi dalam mendukung operasional pelabuhan modern.
Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa yang didampingi dosen memperoleh pemaparan mengenai tata kelola perusahaan sekaligus melihat langsung aktivitas operasional terminal peti kemas yang menjadi salah satu simpul logistik penting di kawasan barat Indonesia.
Pada sesi pemaparan, peserta mendapatkan penjelasan terkait penerapan sistem manajemen yang menjadi acuan perusahaan dalam menjalankan operasional sehari-hari. Materi yang disampaikan meliputi pengelolaan organisasi, kepemimpinan, identifikasi dan mitigasi risiko, evaluasi kinerja, hingga mekanisme perbaikan berkelanjutan guna menjaga kualitas layanan.
Kunjungan lapangan ini diharapkan dapat melengkapi pemahaman mahasiswa terhadap teori yang diperoleh di bangku kuliah. Melalui pengamatan langsung, peserta dapat melihat bagaimana standar operasional diterapkan dalam pelayanan kapal, kegiatan bongkar muat peti kemas, serta pengelolaan arus barang yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
PMT sendiri telah mengintegrasikan sistem manajemen mutu ke dalam sejumlah proses bisnis utama perusahaan. Standar tersebut diterapkan pada layanan bongkar muat peti kemas, kegiatan receiving dan delivery, hingga pelayanan yang berkaitan dengan pemeriksaan kepabeanan dan karantina. Langkah ini dilakukan untuk menjaga konsistensi layanan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Direktur Operasi dan Teknik PMT, Wahyudi, mengatakan bahwa pengelolaan pelabuhan saat ini tidak hanya bergantung pada kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia, tetapi juga membutuhkan dukungan sistem yang mampu memastikan setiap proses berjalan sesuai standar.
“Standar mutu menjadi pedoman dalam setiap tahapan operasional. Namun, penerapannya akan lebih efektif apabila didukung pemanfaatan teknologi digital yang memungkinkan proses kerja dipantau secara real time, sehingga potensi kendala dapat diidentifikasi lebih cepat dan pelayanan kepada pengguna jasa tetap terjaga,” ujar Wahyudi.
Menurutnya, digitalisasi tidak hanya meningkatkan efisiensi proses kerja, tetapi juga memperkuat akurasi data serta koordinasi antarbagian. Dengan demikian, pelayanan dapat berlangsung lebih cepat, transparan, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna jasa pelabuhan.
Wahyudi menambahkan, pengenalan praktik operasional kepada mahasiswa merupakan salah satu bentuk kontribusi dunia usaha dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia di sektor maritim. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan memperoleh gambaran mengenai tantangan industri sekaligus kompetensi yang dibutuhkan di dunia kepelabuhanan.
Bagi mahasiswa, kunjungan industri menjadi kesempatan untuk memahami keterkaitan antara konsep manajemen mutu dengan praktik operasional di lapangan. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan mengenai penerapan standar internasional dalam pengelolaan pelabuhan serta perkembangan transformasi digital di sektor logistik nasional.
Terminal Kuala Tanjung merupakan salah satu simpul logistik strategis yang terus dikembangkan untuk mendukung konektivitas distribusi barang di Indonesia. Seiring meningkatnya aktivitas perdagangan dan arus logistik, penerapan sistem manajemen mutu serta digitalisasi menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing layanan pelabuhan, baik di tingkat nasional maupun internasional. (R)





