MEDAN, Index Sumut – Daya beli petani di Sumatera Utara mengalami penurunan pada Juni 2026. Hal ini tercermin dari menurunnya Nilai Tukar Petani (NTP) Sumut sebesar 1,56 persen secara bulanan menjadi 159,92. Pelemahan terbesar terjadi pada subsektor tanaman perkebunan yang turun 2,78 persen ke level 229,41.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan penurunan NTP perkebunan rakyat dipicu melemahnya harga karet di pasar global yang berdampak langsung terhadap pendapatan petani karet di daerah.
“Harga karet dunia turun cukup tajam dari kisaran 2,35 dolar AS per kilogram pada awal Juni hingga sempat menyentuh sekitar 2,08 dolar AS per kilogram. Penurunan ini membuat harga jual getah karet milik petani ikut terkoreksi sehingga daya beli mereka melemah,” ujarnya, Jumat (3/7).
Menurut Gunawan, pelemahan harga karet tidak terlepas dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah tercapainya perjanjian gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut memengaruhi pergerakan harga sejumlah komoditas global, termasuk karet.
Di sisi lain, komoditas kelapa sawit justru menunjukkan tren yang lebih positif. Harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani Sumut pada Juni tercatat naik sekitar 3,2 hingga 4,5 persen dibandingkan Mei.
Meski demikian, kenaikan harga TBS belum mampu mengimbangi penurunan pendapatan petani karet sehingga secara keseluruhan NTP perkebunan tetap mengalami koreksi.
“Penguatan harga TBS memang membantu, tetapi belum cukup besar untuk menutup dampak penurunan harga karet yang kontribusinya cukup dominan terhadap pendapatan petani perkebunan,” jelasnya.
Selain subsektor perkebunan, beberapa subsektor lain juga mengalami penurunan. Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan turun 0,73 persen, NTP peternakan turun 0,74 persen, sedangkan NTP perikanan terkoreksi 1,4 persen.
Gunawan menjelaskan penurunan tersebut dipengaruhi melemahnya harga telur ayam, daging ayam, dan beberapa komoditas ikan segar yang menekan pendapatan pelaku usaha di sektor tersebut.
Berbeda dengan subsektor lainnya, tanaman hortikultura justru mencatatkan kenaikan NTP sebesar 8,89 persen. Kenaikan ini didorong melonjaknya harga cabai yang meningkatkan pendapatan petani hortikultura.
Ke depan, Gunawan memperkirakan NTP Sumut masih berpeluang bertahan di level yang baik seiring potensi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan akibat meningkatnya biaya produksi, gangguan cuaca, serta mulai pulihnya permintaan pasar.
Namun demikian, ia mengingatkan pemerintah perlu memberi perhatian terhadap tingginya biaya produksi yang masih menjadi beban utama petani.
“Pemerintah perlu menekan biaya produksi pertanian agar kenaikan harga komoditas benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Jika biaya produksi tetap tinggi, maka kenaikan NTP akan sulit meningkat secara optimal,” pungkasnya. (R)





