MEDAN, Index Sumut – Mencairnya hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali membawa angin segar bagi pasar keuangan global. Kabar mengenai rencana kedua negara untuk melanjutkan perundingan damai membuat kekhawatiran terhadap konflik di Timur Tengah mulai mereda, sehingga mendorong penurunan harga minyak dunia dan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, harga minyak mentah Brent pada perdagangan pagi ini turun ke kisaran US$76 per barel dari posisi sebelumnya sekitar US$78 per barel. Pelemahan tersebut mencerminkan mulai berkurangnya premi risiko geopolitik yang sebelumnya membebani pasar.

“Pasar merespons positif kabar dibukanya kembali ruang dialog antara AS dan Iran. Penurunan harga minyak menjadi sentimen yang cukup baik bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia karena dapat mengurangi tekanan terhadap inflasi maupun nilai tukar rupiah,” ujar Gunawan, Jumat (10/7).

Sentimen positif tersebut terlihat dari pergerakan bursa saham Asia yang mayoritas dibuka menguat. Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut mengawali perdagangan di zona hijau pada level 5.936.

Di pasar valuta asing, rupiah juga menunjukkan penguatan dan diperdagangkan di kisaran Rp18.065 per dolar AS. Menurut Gunawan, meski nilai tukar masih berada di atas level psikologis Rp18.000 per dolar AS, tekanan terhadap rupiah mulai mereda.

“Selain dipengaruhi perkembangan geopolitik, pelemahan indeks dolar AS (USD Index) ke level 100,7 serta imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang relatif stabil di kisaran 4,5 persen turut membantu meredakan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” jelasnya.

Ia memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.090 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Sementara itu, IHSG diperkirakan bergerak terbatas di kisaran 5.900 hingga 5.975 seiring pelaku pasar yang masih menunggu perkembangan lanjutan dari negosiasi AS-Iran dan sejumlah data ekonomi global.

Di sisi lain, harga emas dunia justru masih melanjutkan kenaikan ke kisaran US$4.105 per troy ons atau sekitar Rp2,39 juta per gram. Menurut Gunawan, logam mulia tetap menjadi pilihan investor sebagai aset lindung nilai meskipun ketegangan politik di Timur Tengah mulai mereda.

“Pergerakan pasar saat ini cenderung lebih tenang dibandingkan beberapa hari terakhir. Namun, investor tetap perlu mewaspadai perubahan sentimen global yang dapat terjadi sewaktu-waktu, terutama terkait perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat,” pungkasnya. (R)

Share: