* Perkuat Swasembada Pangan Berkelanjutan
MEDAN, Index Sumut – Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan kembali menyelenggarakan forum bergengsi Millennial Agriculture Forum (MAF) Volume 7 Edisi ke-28 Tahun 2026 (11/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung secara daring ini mengangkat tema utama “Swasembada Pangan Berkelanjutan: Tangguh Iklim Menghadapi El Nino”, mempertemukan pemangku kepentingan, pakar, praktisi, dan generasi muda pertanian untuk merumuskan strategi pertanian adaptif iklim. Acara diikuti antusias oleh ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Menyelenggaranya forum strategis ini, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyampaikan apresiasi dan pesan pentingnya bahwa fenomena El Nino dan perubahan iklim bukan sekadar tantangan, melainkan momentum bagi kita untuk berinovasi dan bertransformasi.
“Swasembada pangan tidak bisa lagi dibangun dengan cara lama; kita butuh pertanian yang tangguh, cerdas, dan didukung semangat generasi milenial. Forum seperti ini adalah bukti nyata komitmen kita menjadikan pertanian sebagai tulang punggung kedaulatan bangsa,” kata Mentan Amran.
Sementara itu, Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti menegaskan pentingnya kolaborasi dan adaptasi. “Kemandirian pangan berkelanjutan menuntut kita bergerak cepat. Pengetahuan tentang iklim, teknologi adaptif, dan kearifan lokal harus disatukan menjadi langkah nyata di lapangan. Saya berharap diskusi hari ini melahirkan ide yang bisa langsung diterapkan petani, serta mendorong generasi muda untuk memimpin perubahan ini,” kata Arsanti.
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin mengatakan bahwa pendidikan dan inovasi adalah kunci pertanian tangguh iklim.
“Polbangtan dan perguruan tinggi pertanian harus menjadi laboratorium solusi bagi daerah. Semoga hasil diskusi ini menjadi fondasi kuat kita membangun sistem pangan nasional yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan, tapi juga berdaya tahan menghadapi guncangan alam apa pun,” katanya.
Direktur Polbangtan Medan, Nurliana Harahap menyampaikan, berkat dukungan seluruh petani, Indonesia berhasil meraih kembali swasembada pangan. “Kita tahu, sejarah mencatat pada tahun 1984 kita pernah meraih pencapaian ini, dan pada tanggal 7 Januari 2026, Presiden telah meresmikan bahwa Indonesia kini sudah kembali swasembada pangan,” ujarnya.
“Namun kita harus tetap waspada. Geopolitik dunia yang memanas memberikan dampak nyata bagi pertanian kita, salah satunya kenaikan harga pupuk yang semakin tinggi. Selain itu, fenomena El Nino menjadi tantangan serius, begitu pula bencana alam seperti banjir yang baru saja melanda dan merusak lahan pertanian kita, sehingga butuh upaya pemulihan segera,” sambung Nurliana.
Ketersediaan pangan di sebuah bangsa adalah harga diri bangsa itu sendiri. Harapan besar kita, Indonesia dapat menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045 nanti.
Sebagai institusi pendidikan, Polbangtan Medan memikul tanggung jawab besar untuk menghasilkan sumber daya manusia pertanian yang berkualitas.
“Kami juga aktif melakukan pendampingan kepada Brigade Pangan dengan memberikan literasi pertanian yang dibutuhkan. Kami yakin petani tidak akan menyerah, karena kini sudah ada teknologi pertanian yang bisa dimanfaatkan,” jelas Nurliana.
Kegiatan MAF kali ini sengaja menghadirkan narasumber yang sangat kompeten dari berbagai bidang keahlian mulai dari aspek akademik, aspek klimatologi, hingga pengalaman nyata dari Brigade Pangan agar masyarakat umum mendapatkan panduan yang utuh dan bisa diterapkan.
Sesi inti diskusi menghadirkan tiga narasumber ahli yang mengupas tema secara mendalam yaitu Zulkifli Nasution (Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara) membahas konsep dan strategi pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Narasumber kedua Joko Yulianto Arianto, (Plt. Kepala Stasiun Klimatologi Riau BMKG) menyajikan data fenomena El Nino serta prediksi dan langkah mitigasi yang tepat bagi sektor pertanian.
Dan narasumber ketiga Lusben Simanjuntak, (Manager Brigade Pangan Maju Bersama Desa Cinta Damai, Deli Serdang) berbagi pengalaman nyata membangun ketahanan pangan di tingkat masyarakat melalui gotong royong dan inovasi lokal.
Seluruh sesi diskusi dipandu dengan arah yang terarah oleh moderator Iqbal Irvan Syahputra, Penyuluh Pertanian berpengalaman di lapangan. Kegiatan juga dimeriahkan dengan sesi kuis interaktif berhadiah pulsa bagi peserta yang aktif menjawab pertanyaan narasumber.
Diharapkan, wawasan yang diperoleh dari forum ini dapat menjadi panduan praktis bagi penyuluh, petani, dan pelaku pertanian muda dalam mengelola lahan, menyesuaikan pola tanam, serta membangun sistem pertanian yang tangguh menghadapi El Nino dan tantangan iklim lainnya.
Bersama inovasi, sinergi, dan semangat gotong royong, Indonesia pasti mampu mewujudkan pertanian maju, pangan mandiri, dan energi lestari. (R)





