MEDAN, Index Sumut – Pasar keuangan domestik dibuka dengan sentimen beragam setelah Amerika Serikat membukukan deflasi pada Juni 2026, sementara pertumbuhan ekonomi China melambat pada kuartal II-2026. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih rawan mengalami koreksi dalam jangka pendek.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, mengatakan deflasi AS sebesar 0,4 persen secara bulanan terutama dipicu oleh penurunan harga energi, seiring melemahnya harga minyak mentah dunia pada Juni lalu. Dampaknya, USD Index turun ke level 101,82 pada perdagangan pagi.

“Deflasi di AS memberikan ruang bagi pasar untuk melihat peluang pelonggaran kebijakan moneter, namun tekanan inflasi belum sepenuhnya hilang karena harga minyak masih bertahan tinggi,” ujar Gunawan Benjamin, Rabu (15/7).

Harga minyak mentah dunia masih berada di kisaran 80 dolar AS per barel untuk WTI dan sekitar 85 dolar AS per barel untuk Brent. Menurut Gunawan, tensi geopolitik di Timur Tengah dan konflik di sekitar Selat Hormuz membuat harga minyak berpotensi kembali mendorong inflasi pada Juli.

Sentimen positif dari data inflasi AS sempat mendorong penguatan bursa saham Wall Street dan mayoritas pasar saham Asia. IHSG pada pembukaan perdagangan juga menguat ke level 6.068.

Namun, pasar kembali dihadapkan pada kabar kurang menggembirakan dari China. Pertumbuhan ekonomi negeri tersebut melambat menjadi 4,3 persen pada kuartal II-2026, lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 5 persen.

“Perlambatan ekonomi China berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan Asia, termasuk Indonesia. Karena China merupakan mitra dagang utama banyak negara di kawasan,” katanya.

Gunawan menilai IHSG berpeluang bergerak di dua zona berbeda sepanjang perdagangan. Di satu sisi, sentimen deflasi AS memberi dorongan positif, tetapi di sisi lain kekhawatiran terhadap inflasi akibat kenaikan harga minyak dan perlambatan ekonomi China dapat memicu aksi ambil untung.

Di pasar valuta asing, rupiah diperdagangkan menguat ke level Rp18.045 per dolar AS. Penguatan tersebut juga didukung langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

“Penguatan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi pelemahan dolar AS secara global, ditambah intervensi dan kebijakan BI yang cukup agresif dalam menjaga stabilitas pasar,” jelasnya.

Sementara itu, harga emas justru mengalami tekanan meskipun AS mencatat deflasi. Pada perdagangan pagi, emas berada di kisaran 4.030 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,35 juta per gram.

“Pasar masih melihat ancaman inflasi pada Juli akibat kenaikan harga minyak. Karena itu, emas belum mampu menguat signifikan dan masih berpotensi bergerak fluktuatif,” pungkas Gunawan.

Dengan kombinasi sentimen global yang saling bertolak belakang, pelaku pasar diperkirakan akan tetap berhati-hati terhadap pergerakan IHSG, rupiah, maupun harga emas dalam beberapa hari ke depan. (R)

Share: